Bagikan:

JAKARTA - Dilaporkan 23 orang tewas termasuk empat anak-anak akibat serangan ke biara di desa wilayah Sagaing, Myanmar.

Hlaing Bwa, Kepala Administrasi Rakyat Distrik Sagaing mengatakan biara di desa Lintalu tersebut diserang pada Jumat dini hari.

Ia dan seorang penduduk setempat menceritakan serangan itu sebagai serangan udara oleh Dewan Administrasi Negara, junta militer yang berkuasa di Myanmar. Juru bicara junta tidak menanggapi permintaan komentar.

Biara tersebut menampung sekitar 200 orang yang mengungsi akibat pertempuran antara tentara dan pasukan pro-demokrasi di dekatnya, ujar Hlaing Bwa kepada Reuters, Jumat, 11 Juli.

Seorang juru bicara Pemerintah Persatuan Nasional sipil paralel, yang melacak serangan udara, tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Myanmar telah dilanda konflik sejak militer menekan protes terhadap kudeta 2021 yang menggulingkan pemerintah terpilih yang dipimpin oleh peraih Nobel Aung San Suu Kyi.

Beberapa hari setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter melanda Sagaing pada 28 Maret, pemerintah mengumumkan gencatan senjata sementara untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan membantu membangun kembali wilayah tersebut, menyusul langkah serupa dari kelompok anti-junta bersenjata.

Namun, militer terus melancarkan serangan udara dan artileri ke wilayah-wilayah yang dikuasai pemberontak, termasuk wilayah-wilayah yang telah hancur akibat gempa, yang menewaskan hampir 3.700 orang.

Pada Mei, NUG menuduh junta militer menewaskan 17 siswa dalam serangan udara yang menghantam sekolah di kota Depayin, juga di Sagaing dan dekat dengan episentrum gempa.

Phoee Kaine, seorang warga Lintalu yang tinggal di dekat biara tersebut, mengatakan kepada Reuters, selain 23 korban tewas yang dikonfirmasi, banyak lagi yang terluka dalam serangan tersebut.

"Kami sedang mengevakuasi pasien yang membutuhkan perawatan medis segera sebagai bagian dari upaya penyelamatan dan bantuan yang sedang kami lakukan," kata Phoe Kaine.