Bagikan:

JAKARTA - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia pada Hari Kamis, kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS.

Dalam kunjungan pertamanya ke Asia Tenggara sejak menjabat, Menlu Rubio berada di Kuala Lumpur untuk bertemu dengan 10 anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dan pejabat senior pemerintah Malaysia, dilansir dari Reuters 10 Juli.

Perjalanan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memperbarui fokus AS pada Indo-Pasifik, melihat melampaui konflik di Timur Tengah dan Eropa yang telah menyita banyak perhatian Pemerintahan Presiden Trump, dengan Rubio menyeimbangkan tanggung jawab ganda sebagai menteri luar negeri dan penasihat keamanan nasional.

"Saya dapat mengonfirmasi: pertemuan semacam itu sedang direncanakan," lapor TASS mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova Hari Kamis.

Ini akan menjadi pertemuan tatap muka kedua kedua diplomat utama masing-masing negara, terjadi di saat Presiden AS Donald Trump semakin frustrasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin seiring berlarutnya perang di Ukraina.

Sebelumnya, kedua menteri luar negeri bertemu di Arab Saudi pada Bulan Februari sebagai bagian dari upaya Pemerintahan Presiden Trump untuk membangun kembali hubungan bilateral dan membantu negosiasi untuk mengakhiri perang.

Presiden Trump, yang kembali berkuasa tahun ini dengan menjanjikan akhir yang cepat dari perang yang dimulai pada tahun 2022, telah mengambil nada yang lebih lunak terhadap Moskow, berbeda dari dukungan kuat pendahulunya, Joe Biden, untuk Kyiv.

Namun pada Hari Selasa, sehari setelah Trump menyetujui pengiriman senjata pertahanan AS ke Ukraina, Ia melontarkan kritik langsung yang tidak biasa kepada Presiden Putin, dengan mengatakan pernyataan Pemimpin Kremlin tersebut tentang langkah menuju perdamaian "tidak berarti".

Presiden Trump juga mengatakan sedang mempertimbangkan untuk mendukung RUU yang akan menjatuhkan sanksi berat kepada Rusia, termasuk tarif 500 persen bagi negara-negara yang membeli minyak, gas, uranium, dan ekspor lainnya dari Rusia.

Ketika ditanya pada Hari Rabu tentang kritik Presiden Trump terhadap Presiden Putin, Kremlin mengatakan Moskow "tenang" menanggapi kritik tersebut dan akan terus berupaya memperbaiki hubungan AS-Rusia yang "rusak".