JAKARTA - Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan pada Hari Rabu, mereka memiliki bukti Ukraina telah berulang kali menggunakan ranjau anti-personel yang telah melukai warga sipil, sehingga keluarnya Kyiv dari Konvensi Ottawa tidak akan berdampak pada medan perang.
Bulan lalu, Ukraina mengumumkan penarikannya dari Konvensi Ottawa yang melarang produksi dan penggunaan ranjau anti-personel.
Ukraina mengatakan hal itu merupakan langkah yang diperlukan mengingat taktik Rusia dalam perang mereka yang telah berlangsung selama 40 bulan.
Rusia bukan merupakan pihak dalam Konvensi Ottawa dan Ukraina mengatakan Rusia telah menggunakan ranjau darat secara ekstensif dalam perang tersebut.
"Penggunaan ranjau anti-personel oleh rezim Kyiv terhadap warga sipil secara teratur dicatat oleh lembaga penegak hukum kami," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova, dilansir dari Reuters 10 Juli.
"Keputusan Ukraina untuk menarik diri dari mekanisme tersebut sejalan dengan langkah umum kolektif Barat dan negara-negara satelitnya untuk merevisi dan melemahkan sistem hukum internasional di bidang pengendalian senjata, pelucutan senjata, dan non-proliferasi," lanjutnya.
Lebih jauh Zakharova mencatat, berdasarkan teks, penarikan diri dari konvensi berdasarkan Perjanjian Ottawa selama konflik bersenjata seharusnya tidak berlaku sebelum berakhirnya konflik bersenjata.
"Keputusan untuk menarik diri dari konvensi hanya berlaku setelah berakhirnya konflik bersenjata tersebut," jelas Zakharova.
"Kami beranggapan bahwa ketentuan ini sepenuhnya berlaku untuk proses penarikan diri yang diluncurkan oleh Ukraina dari mekanisme ini," tandasnya.
"Pada saat yang sama, kewajiban Konvensi belum dipenuhi oleh Kyiv bahkan sebelum keputusan tersebut," ujarnya, seraya menambahkan ukraina telah diwajibkan untuk menghancurkan semua persediaan ranjau anti-personel pada tahun 2010, tetapi tidak melakukannya.
BACA JUGA:
Terpisah, Lituania dan Finlandia yang berbatasan dengan Rusia, telah mengumumkan niat mereka untuk menarik diri dari Konvensi Ottawa yang melarang penggunaan ranjau semacam itu, ujar pejabat dari kedua negara anggota NATO tersebut kepada Reuters.
Kedua negara tampaknya akan memulai produksi ranjau darat anti-personel dalam negeri tahun depan untuk memasok kebutuhan mereka sendiri dan Ukraina karena apa yang mereka anggap sebagai ancaman militer dari Rusia, dan para pejabat tersebut mengatakan produksi dapat diluncurkan setelah proses penarikan enam bulan selesai.
Sementara, Rusia menepis klaim mereka akan menyerang anggota NATO sebagai "omong kosong" Russophobia yang disebarkan oleh kekuatan-kekuatan Eropa dalam upaya meyakinkan rakyat mereka untuk menerima lonjakan anggaran pertahanan.