JAKARTA - Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan pihaknya memiliki bukti Ukraina telah berulang kali menggunakan ranjau darat anti-personel yang telah melukai warga sipil.
Karenanya, Rusia menganggap keluarnya Kyiv dari Konvensi Ottawa tidak akan berdampak pada medan perang.
Ukraina bulan lalu mengumumkan menarik diri dari Konvensi Ottawa yang melarang produksi dan penggunaan ranjau darat anti-personel. Ukraina menyatakan langkah ini diperlukan mengingat taktik Rusia dalam perang mereka yang telah berlangsung selama 40 bulan.
Rusia bukan pihak dalam perjanjian tersebut, dan Ukraina menyatakan Rusia telah menggunakan ranjau darat secara ekstensif dalam perang tersebut.
"Penggunaan ranjau anti-personel oleh rezim Kyiv terhadap warga sipil secara rutin dicatat oleh badan penegak hukum kami," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova kepada para wartawan dilansir Reuters, Rabu, 9 Juli.
"Keputusan Ukraina untuk menarik diri dari mekanisme tersebut sejalan dengan langkah umum kolektif Barat dan negara-negara satelitnya untuk merevisi dan melemahkan sistem hukum internasional di bidang pengendalian senjata, pelucutan senjata, dan non-proliferasi,” sambungnya.
Zakharova mencatat berdasarkan teks, penarikan diri dari konvensi berdasarkan Perjanjian Ottawa selama konflik bersenjata seharusnya tidak berlaku sebelum berakhirnya konflik bersenjata.
"Keputusan untuk menarik diri dari konvensi tersebut mulai berlaku hanya setelah berakhirnya konflik bersenjata tersebut," kata Zakharova.
"Kami melanjutkan dari fakta bahwa ketentuan ini sepenuhnya berlaku untuk proses penarikan yang diluncurkan oleh Ukraina dari mekanisme ini. Pada saat yang sama, kewajiban Konvensi tidak dipenuhi oleh Kyiv bahkan sebelum keputusan tersebut," sambungnya.
Rusia menekankan Ukraina telah diwajibkan untuk menghancurkan semua persediaan ranjau antipersonel pada tahun 2010 tetapi tidak melakukannya.
BACA JUGA:
Lithuania dan Finlandia tampaknya akan memulai produksi ranjau darat antipersonel dalam negeri tahun depan untuk memasok diri mereka sendiri dan Ukraina karena apa yang mereka lihat sebagai ancaman militer dari Rusia, kata pejabat dari kedua negara anggota NATO kepada Reuters.
Kedua negara, yang berbatasan dengan Rusia, telah mengumumkan niat mereka untuk menarik diri dari Konvensi Ottawa yang melarang penggunaan ranjau tersebut, dan para pejabat mengatakan produksi dapat diluncurkan setelah proses penarikan selama enam bulan selesai.
Rusia menepis klaim mereka akan menyerang anggota NATO dan menyebutnya sebagai "omong kosong" Russophobia yang disebarkan oleh kekuatan Eropa dalam upaya meyakinkan penduduk mereka agar menerima melonjaknya anggaran pertahanan.