PAN Sindir Partai Ummat Oligarki, Siapa yang Sakit Hati?
Deklarasi Partai Ummat (Tangkapan Layar Youtube Amien Rais)

Bagikan:

JAKARTA - Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Guspardi Gaus menyindir Partai Ummat yang baru dideklarasikan Amien Rais, melakukan praktik oligarki.
 
Pasalnya, di tubuh partai berlambang perisai bintang emas itu, Amien Rais menjadi Ketua Majelis Syuro. Sementara, yang menjadi ketua umum merupakan menantunya sendiri, yakni Ridho Rahmadi.
 
"Masyarakat akan menilai apakah praktik oligarki atau partai dibentuk dalam sistem kerajaan telah berlaku pada Partai Ummat. Tentu masyarakat sudah cerdas, kita persilakan masyarakat menilai," ujar Guspardi, Jumat, 30 April.
 
Guspardi mengaku, PAN tidak merasa tersaingi dengan kehadiran Partai Ummat. Menurutnya, setiap warga negara berhak mendirikan sebuah partai. 
 
"Tinggal bagaimana menjadi suatu organisasi politik yang mampu mewadahi aspirasi masyarakat lewat pemilu," katanya.

Anggota Komisi II DPR RI itu mengingatkan, bahwa syarat untuk menjadi peserta pemilu tidak mudah. Selain disahkan Kemenkumham, harus pula diverifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Ini bagian aktualisasi daripada demokrasi. Cuma untuk menjadi peserta pemilu tentu harus dipenuhi pula persyaratan-persyaratan untuk menjadi partai politik peserta pemilu," kata Guspardi. 
 
Sebagai partai baru, anggota Baleg DPR RI itu pesimis Partai Ummat bisa melenggang ke Senayan pada Pemilu 2024 mendatang. Sebab, ada ambang batas perolehan suara parlemen atau Parliamentary Threshold.

"Setelah itu ada lagi langkah lain, untuk bisa berada di senayan harus bisa memenuhi parliamentary threshold, dan biasanya partai baru sulit dan susah untuk bisa capai hal demikian," pungkasnya.
 
Menanggapi itu, Wakil Ketua Umum Partai Ummat Agung Mozin meminta Guspardi Gaus untuk fokus kepada partai sendiri.

"Komentar saya cuma satu, fokus saja kepada partainya sendiri. Kemudian fokus saja kepada Partai Amanat Nasional yang sekarang hasil surveinya semakin merosot," kata Agung, Jumat, 30 April.

Menurut Agung, PAN merupakan bagian masa lalu yang tak perlu dipikirkan di masa sekarang. Dia menilai, masyarakat sudah bisa melihat mana loyang dan yang mana emas.

"Jadi fokus saja ke situ, tidak usah memikirkan Partai Ummat. Kami tidak pernah memikirkan PAN lagi, PAN partai masa lalu yang sudah tidak perlu lagi kami pikirkan," ucapnya. 
 
Sementara, Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Andriadi Achmad menilai partai dinasti atau oligarki tidak akan terjadi di Partai Ummat. Pasalnya, meski Ketua Dewan Majelis Syuro adalah Amien Rais, namun ketua umum Partai Ummat Ridho Rahmadi hanya merupakan menantu, bukan anak kandung.
 
"Ridho Rahmadi itu menantunya Amien Rais, ketua majelis syuro, sebenarnya ada kerancuan juga tapi tidak terlalu ditonjolkan. Karena Ridho Rahmadi bukan anak kandung," ujar Andriadi kepada VOI, Jumat, 30 April.
 
Beda hal jika Ridho adalah anak kandung, kata Andriadi, bisa disebut politik dinasti lantaran dikuasai satu keluarga. Jika demikian, maka perjalanan partai mungkin tidak akan mulus.
 
"Kalau Hanafi Rais jadi ketum mungkin agak sedikit digesek-gesek, maksudnya 'partai dinasti juga nih'. Tapi ini menantu walaupun ada hubungan tapi bukan anak kandung," jelasnya.

Andriadi justru menilai, penunjukkan Ridho sebagai ketua umum hanya lah formalitas administrasi untuk mendaftarkan partai ke Kementerian Hukum dan HAM. Seperti hal nya Partai Nasdem saat pertama kali berdiri.

"Saya pikir gini, sama dengan Nasdem, kan dulu Patrice Rio Capella tapi setelah setahun kemudian dikembalikan lagi ke Surya Paloh. Artinya bisa jadi sekarang penuhi administrasi dulu kemudian berganti setahun dua tahun. Pokoknya lulus administrasi dulu lah, ya bisa jadi," kata Andriadi.
 
Diketahui, dari informasi yang diutarakan wakil ketua umum Partai Ummat Agung Mozin, Majelis Syuro bisa sewaktu-waktu mengganti ketua umum di DPP. Sebab, kewenangan tertinggi berada ditangan majelis tersebut.
 
Kendati demikian, Andriadi menduga ada tokoh nasional yang kuat bakal menjadi kejutan di Partai Ummat. Nantinya, sosok itulah yang nakal didaulat menjadi pimpinan parpol bahkan calon presiden dari partai berlambang perisai dan bintang emas itu.
 
"Kemungkinan bisa jadi tokoh yang jadi, Gatot Nurmantyo, Din Syamsudin atau Anies Baswedan. Tapi sementara untuk memuluskan admunstrasi ya bisa jadi (Ridho Rahmadi, red)," tandasnya.
 

Partai Ummat dan 'Barisan Sakit Hati'

 
Wakil Ketua Umum Partai Ummat, Agung Mozin membantah parpolnya dikaitkan dengan persepsi partai 'Barisan Sakit Hati'. Sebaliknya, kata dia, yang mengatakan demikian justru sakit hati ditinggalkan tokoh-tokoh yang berada dibarisan Partai Ummat. 
 
"Tidak juga, itu kan stigma yang dibangun oleh mereka yang kita tinggalkan," ujar Agung kepada VOI, Jumat, 30 April.
 
Menurutnya, pihak yang menyebut demikian tidak terima melihat perkembangan Partai Ummat yang cukup signifikan. Terlebih, survei Partai Ummat terus menunjukkan arah positif.
 
"Mereka yang kita tinggalkan itu terganggu, apalagi melihat hasil survei yang naik terus dari 0,3 persen, naik 0,9 persen, naik 1,1 persen, naik jadi 1,3 persen kemudian naik lagi 1, persen. Dan kemarin di DKI, hasil survei kita 2,1 persen, wah itu buat partai baru sesuatu banget," ucap Agung.

"Jadi kalau ada yang mengatakan seperti itu (barisan sakit hari, red) ya pernyataan orang-orang yang panik dengan pertumbuhan Partai Ummat," sambungnya.

 

 

PAN Hilang, Timbul Partai Ummat

 
Partai Ummat diprediksi bakal mendulang kesuksesan yang sama saat bapak reformasi itu mengantarkan Partai Amanat Nasional (PAN) ke Pemilu 2004 lalu.
 
Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Andriadi Achmad menilai ketokohan Amien Rais masih menjadi magnet untuk Partai Ummat. Bahkan, diperkirakan ceruk suara PAN bakal bergeser ke partai yang kini diketuai Ridho Rahmadi itu.
 
"PAN yang hari ini ketokohannya hilang pamor karena Amien Rais keluar, hanya mengandalkan Zulkifli Hasan saya pikir tidak terlalu meyakinkan," ujar Andriadi kepada VOI, Jumat, 30 April.

Menurut Andriadi, sebagian suara PAN terutama dari kalangan Muhammadiyah pasti akan mengekor ke Amien Rais. Sebab, sosok mantan ketua MPR itu sangat identik dengan ormas Islam tersebut.

"Prediksi saya (geser ke Partai Ummat. Red). Karena PAN Muhammdiyah juga enggak, tokoh nya sudah terbagi-bagi. Kalau Amien Rais kan sudah identik dengan Muhammadiyah, pasti larinya ke Partai Ummmat," jelasnya.
 
Belum lagi, lanjut dia, ada tokoh-tokoh lain yang merapat ke Partai Ummat dan memiliki basis pendukung. Misalnya, mantan Ketum PP Muhamadiyah Din Syamsudin, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang membawa gerbong suara.
 
"Juga bisa jadi ceruk pemilih Partai Ummat, lebih besar dari PAN. Karena dia (Partai Ummat, red) beragam. Alumni 212, Muhammadiyah, terus reinkarnasi Masyumi bisa jadi. Jadi ceruk pasarnya alumni 212 dan massa PAN. Saya prediksi Partai Ummat mendapat tempat di 2024. Belum lagi nanti ada tokoh seperti Gatot Anies atau Din Syamsudin. Ah itu seru," ungkap Direktur Eksekutif Nusantara Institute PolCom SRC itu.
 
"Yang memprihatinkan itu PAN, saya khawatir PAN akan hilang, timbul Partai Ummat," kata Andriadi menambahkan.