JAKARTA - Siang bolong mengikis getah dari polong biji di ladang bunga opium terpencil di Myanmar, Aung Hla bersandar pada tanaman narkotika agar dapurnya terus ngebul di tengah perang saudara yang terus menerus terjadi di negaranya.
Pria berusia 35 tahun itu adalah seorang petani padi ketika junta militer merebut kekuasaan Myanmar dalam kudeta tahun 2021.
Empat tahun kemudian, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan Myanmar terperosok dalam "polikrisis" konflik, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan yang makin memburuk.
Di Myanmar, gerilyawan pro-demokrasi bermunculan pascakudeta yang dilakukan junta militer sehingga menambah runyam perang saudara antara militer dan kelompok etnis bersenjata.
Konflik itu membuat Aung Hla terusir dari kediamannya di Desa Moe Bye.
Setelah menemukan lokasi tempat tinggal baru, sumber pertanian yang biasa ditanamnya tidak lagi membuahkan pundi-pundi kehidupan. Harapannya kemudian dipasrahkan pada bunga opium yang menurutnya menjanjikan untuk mata pencaharian sehari-hari.
"Semua orang mengira, menanam bunga opium untuk menjadi kaya, tetapi kami hanya berusaha keras untuk bertahan hidup," kata Aung Hla di kota pedesaan Pekon, negara bagian Shan timur, Myanmar, kepada AFP, dikutip 10 Maret.
Meski demikian, ia mengaku menyesal telah membudidayakan zat tersebut, yang merupakan bahan utama heroin. Baginya, upayanya selama ini hanya untuk menghindari kelaparan.
"Jika ada orang yang berada di posisi saya, mereka mungkin akan melakukan hal yang sama," sambung Aung Hla.
Produksi opium Myanmar sebelumnya berada di urutan kedua dunia setelah Afghanistan.
Afghanistan diketahui penghasil pertanian opium tertinggi setelah Amerika Serikat (AS) melakukan invasi ke wilayah tersebut pascakejadian 11 September 2001.
Namun belakangan, Pemerintah Taliban melakukan perbaikan regulasi, Myanmar lantas menyalip Afghanistan sebagai produsen opium terbesar di dunia pada tahun 2023, menurut Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC).
Menurut UNODC, perekonomian opium Myanmar —termasuk nilai konsumsi dalam negeri serta ekspor ke luar negeri— diperkirakan antara 589 juta dolar AS dan 1,57 miliar dolar AS.
Senasib Bersandar pada Opium
Antara September dan Februari setiap tahun, puluhan petani bekerja keras di ladang Pekon, mengiris polong biji opium yang belum matang, yang mengeluarkan sedikit getah cokelat lengket.
Aung Naing, 48 tahun, dengan hati-hati memindahkan resin yang terkumpul dari palung kecil ke piring daun.
Naing senasib dengan Aung Hla, menjadi petani opium bahan utama heroin.
Naing sebelum kudeta militer Myanmar telah bertobat menjadi petani opium, namun ekonomi menyudutkannya. Kesulitan akibat kekerasan junta militer memaksanya kembali menanam opium.
“Penanaman opium semakin meningkat karena kesulitan masyarakat mencari mata pencaharian,” katanya.
“Sebagian besar petani yang menanam opium karena kemiskinan. Penduduk yang tidak dapat tinggal di desa mereka, melarikan diri ke hutan bekerja di ladang opium,” sambung Naing.
BACA JUGA:
Naing mengatakan opium menghasilkan keuntungan yang sedikit lebih tinggi daripada tanaman pangan seperti jagung, tahu, dan kentang, yang rentan terhadap penyakit saat hujan.
Menurut UNODC, opium segar umumnya dijual oleh petani Myanmar dengan harga lebih dari 300 dolar AS per kilo pada tahun 2024, harga terendah yang diperolehnya di pasar gelap internasional.
Pada kenyataannya, di Myanmar, opium lebih mahal untuk diproduksi daripada beras —lebih padat karya, membutuhkan pupuk mahal, dan hasil panennya sedikit.
Naing mengatakan, hanya menghasilkan keuntungan sekitar 30 dolar AS untuk setiap kilo penjualan opium.