Bagikan:

JAKARTA - Hamas siap memulai negosiasi gencatan senjata tahap kedua, serta membebaskan enam sandera dan memulangkan empat jenazah Israel pada pekan ini, kata seorang pejabat senior kelompok militan Palestina itu.

Kepala negosiator Hamas Khalil al-Hayya mengatakan pada Hari Selasa, pihaknya siap memulai negosiasi tahap kedua gencatan senjata, serta membebaskan enam sandera yang masih hidup berdasarkan kesepakatan tahap pertama dan memulangkan jenazah empat sandera pada pekan ini, dikutip dari IRNA 19 Februari.

Dikutip dari CNN, Hamas akan memulangkan empat jenazah sandera Israel pada Hari Kamis, termasuk dua sandera termuda, Kfir dan Ariel Bibas.

Pada Hari Sabtu, Hamas akan membebaskan enam sandera yang masih hidup, bukan tiga seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Kantor Perdana Menteri Israel mengonfirmasi pada Hari Selasa, kesepakatan telah dicapai selama negosiasi di Kairo untuk "empat sandera yang terbunuh" yang akan diserahkan pada hari Kamis dan "enam sandera yang masih hidup" yang akan dibebaskan pada hari Sabtu.

Ditambahkannya, "empat sandera yang terbunuh lainnya diperkirakan akan diserahkan ke Israel minggu depan."

Sebagai respons, Israel diperkirakan akan membebaskan tahanan Palestina sebagai ganti orang Israel, seperti pada minggu-minggu sebelumnya.

Kfir dan Ariel Bibas berusia sembilan bulan dan empat tahun ketika diculik dalam serangan kelompok militan Palestina pada Oktober 2023.

Israel belum mengonfirmasi kematian mereka dan belum mengomentari pengumuman Hamas.

Hamas mengklaim pada November 2023, Kfir dan Ariel Bibas tewas bersama ibu mereka dalam serangan udara Israel, dan merilis video ayah mereka Yarden, yang juga disandera, di mana ia menyalahkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas kematian mereka.

Seorang juru bicara militer Israel saat itu menyebut video itu sebagai "teror psikologis," tetapi militer telah memberi tahu kerabat mereka mungkin tidak hidup, menurut juru bicara Forum Sandera dan Keluarga Hilang.

Hamas belakangan membebaskan Yarden Bibas, hidup-hidup, pada tanggal 1 Februari lalu.

Al-Hayya menjelaskan, Hamas akan bekerja sama dengan para mediator, khususnya Qatar dan Mesir, untuk memastikan tahap pertama perjanjian gencatan senjata dilaksanakan secara menyeluruh.

Ia menekankan, Hamas telah menunjukkan komitmennya terhadap perjanjian tersebut, sambil menyalahkan rezim Israel karena menunda dan menghindari kewajibannya berdasarkan kesepakatan tersebut, khususnya yang berkaitan dengan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Diketahui, tiga puluh tiga tahanan Israel akan dibebaskan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata tahap pertama, dengan 19 orang dibebaskan sejauh ini sebagai imbalan atas lebih dari 1.100 warga Palestina.

Dari 14 orang yang tersisa, delapan orang tewas, menurut pejabat Israel.

Kesepakatan gencatan senjata tiga tahap antara Israel dan Hamas diumumkan pada 15 Januari lalu dan mulai berlaku pada 19 Januari.

Tahap pertama gencatan senjata secara resmi akan berakhir pada tanggal 1 Maret, dan Israel telah menunda negosiasi pada tahap berikutnya, yang seharusnya dimulai 16 hari setelah perjanjian tersebut berlaku pada tanggal 19 Januari.

Tahap kedua gencatan senjata menyerukan diakhirinya perang di Gaza secara permanen.