Cerita Tokoh Agama Depok Divaksinasi COVID-19: Enggak Sakit <i>Kok</i>
Ilustrasi vaksin. (Sam Moqadam/Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Sebanyak 260 tokoh lintas agama Kota Depok mulai divaksinasi COVID-19 sejak Selasa, 2 Maret lalu. Lokasi vaksinasi tahap dua dengan sasaran petugas pelayanan publik ini digelar di Rumah Sakit Hasanah Graha Afiah.

Salah satu tokoh agama di Kota Depok, yakni Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja Setempat (PGIS) Kota Depok, Ranap Sinaga, menceritakan pengalamannya divaksin kepada VOI.

Pada Senin, 1 Maret Ranap mendapat kabar dari Dinas Kesehatan Kota Depok bahwa sejumlah tokoh agama mendapat jatah vaksinasi. Lalu, ia dijadwalkan menjalani vaksin pada Rabu, 3 Maret.

"Jadwal vaksinasi untuk tokoh agama di Depok itu Selasa, Rabu, Kamis. Karena banyak yang antusias, tokoh agama yang mendaftar untuk divaksin sampai menunggu giliran di pekan-pekan selanjutnya. Soalnya, per hari dibatasi 60 orang," kata Ranap kepada VOI, Kamis, 4 Maret.

Ranap bercerita dirinya hampir gagal mendapat suntikan vaksinasi. Pria berusia 53 tahun itu bilang, saat menjalani skrining kesehatan sebelum disuntik, tensi darahnya tinggi.

Ranap mengaku dirinya memiliki penyakit komorbid yakni diabetes. Namun, saat ini tekanan darahnya tidak separah tahun lalu. Ia lalu meminta izin untuk beristirahat sebentar sebelum tekanan darahnya dicek kembali.

Sudah setahun corona di Indonesia, sejak Maret 2020. Bulan Maret tahun lalu, pemerintah resmi merilis COVID-19 masuk ke Indonesia penyebutan kasus 01, 02 dan seterusnya. Redaksi VOI coba menulis ulang saat COVID-19 muncul di Indonesia. Apa dan bagaimana kebingungannya negeri ini. Klik di sini untuk mendapatkan berita selengkapnya.

"Saya hampir gagal divaksin. Saat ditensi, ternyata tensinya tinggi. Mungkin karena paginya saya ada aktivitas, siangnya langsung ke rumah sakit," tutur Ranap.

"Terus saya bilang sama dokter yang skrining kalau saya hanya kecapekan. Saya minta izin istirahat 20 menit, setelah itu tensi ulang. Puji tuhan. Saat ditensi ulang, jadi normal," lanjutnya.

Sampai akhirnya, ranap mendapat suntikan vaksinasi. Saat jarum suntik ditancapkan ke lengan kirinya, Ranap hampir tidak merasakan apa-apa. Ia hanya sempat merasa ada jarum suntik menekan kulitnya.

"Pas disuntik enggak terasa. Dokternya pintar. Saat disuntik, saya sambil diajak ngobrol, tau-tau selesai. Kata orang kan kayak digigit semut, tapi saya enggak terlalu merasa," ujar Ranap.

Setelah disuntik, Ranap kembali beristirahat selama 30 menit sebelum pulang ke rumah. Setelahnya, ia merasakan sedikit pegal di bagian lengan. Namun, hanya itu.

"Ada pegal di lengan, tapi hanya kerasa sedikit. Saya juga enggak mual. Setelah divaksin, saya langsung makan banyak," tutup dia.