Sakit Hati Seorang Ibu di Tangerang, Mendengar Anaknya Hamil 4 Bulan dari Guru BK
Siswi SMA di Tangerang diduga diperkosa ayahnya hingga hamil 8 bulan/ Foto: Jehan/ VOI

Bagikan:

TANGSEL – S (39), inisial seorang ibu di Tangerang yang merasa terpukul karena anaknya hamil 8 bulan akibat perbuatan suaminya. Kesal sekaligus kecewa, setelah sekian lama perut putrinya membesar, SM melaporkan suaminya ke polisi.

Adalah MN (53), suami S yang diduga menghamili FN, putrinya sendiri. Dugaan MN menghamili FN terungkap ketika S mendapat kabar dari guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah FN. Siswi tingkat SMU itu bercerita kepada gurunya, perihal kelakuan ayahnya yang telah menghamilinya.

“Aku tahu dari guru BK (di sekolah FN) korban. Dia cerita ke guru BK, bukan sama saya. Terus, anak saya dipegang-pegang (dicabuli) dari kelas 4 SD sampai kelas 6 SD. Diperkosa kelas 9 SMP,” ujar S saat ditemui VOI di rumahnya di Kawasan Tangsel, Selasa malam, 28 November.

“Sempat berhenti 2 tahun karena COVID-19. Terus SMA Kelas 11 ini diperkosa kembali. Total sudah 18 kali,” sambungnya.

Sebagai seorang ibu yang melahirkan anak, S mengaku syok, kecewa bahkan sakit hati. Bagai petir menggelegar di siang hari. Dia tak menyangka, pria yang dicintainya sehidup semati, justru menikmati anak hasil pernikahannya. Demi syahwat.

Setelah mendapat informasi dari guru BK, S pun menanyakan langsung kepada FN mengenai kebenaran informasi tersebut. Sebab, saat itu kandungan di perut anaknya masih berusia 4 bulan. Belum terlihat besar.

“Mungkin masih 4 bulanan, jadi perutnya tidak kelihatan (membesar-red). Baju ditutupin jaket,” ucap S.

Hingga akhirnya sang anak mengaku, S belum mau melaporkan suaminya. Ia berusaha untuk mencari fakta. Namun sayang, ketika S menanyakan langsung ke suaminya, MN justru membantah bahwa dirinya tidak memperkosa anaknya.

“Tidak ada, saya tidak menyetubuhi,” kata S, menirukan ucapan suaminya.

Merasa buntu dengan upaya tersebut. S pun meminta kepada anaknya untuk merekam segala tindakan yang dilakukan suaminya di kemudian hari. Sebab, bagi S, untuk membuat laporan kepolisian ia harus memiliki bukti kuat.

“Saya suruh ngerekam. Buat bukti laporan ke polisi,” ungkapnya.

Seiring waktu berjalan, S memperoleh bukti berupa hasil visum dan sebuah rekaman. Sejak itu dia menguatkan diri melangkah ke kantor polisi untuk melaporkan suaminya.