Mengapa Pembangkit Nuklir Belum Diterapkan di Indonesia: Berikut beberapa Alasan Kuatnya
Mengapa Pembangkit Nuklir Belum Diterapkan di Indonesia (Gambar Dan Meyers-Unsplash)

Bagikan:

YOGYAKARTA - Sedari dulu kalau mendengar kata Nuklir tentunya banyak orang akan berfikiran tentang perang dan imbas yang dihasilkan olehnya berupa kehancuran dan kesengsaraan. Namun ternyata tak melulu Nuklir itu dimanfaatkan buat perang juga loh, namun bisa juga dikembangkan sebagai tenaga listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Yang jadi pertanyaan hingga saat ini, mengapa pembangkit nuklir belum diterapkan di Indonesia?

Pemanfaatan Tenaga Nuklir Untuk Listrik

Pasalnya, cara pemanfaatan Nuklir menjadi tenaga listrik yaitu dengan menggunakan uranium sebagai sumber panasnya. Sebenarnya prinsip tenaga Nuklir ini mirip-mirip dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Yaitu menggunakan uap panas bertekanan tinggi untuk memutar turbin. Nantinya putaran turbin tersebut bakal jadi energi listrik.

Namun tak sesederhana itu dengan Nuklir, karena dibutuhkan reactor kusus agar bisa mencegah terjadinya ledakan yang bisa membahayakan masyarakat dan juga kehidupan di sekitarnya. Lalu kenapa Indonesia tak membikinnya?

Alasan Mengapa Pembangkit Nuklir Belum Diterapkan di Indonesia

1. Belum Ada Bukti Indonesia Kaya Uranium

Berdasarkan hasil pengamatan dari Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldi Dalimi, Pasalnya ia menjelaskan kalau masyarakat Indonesia sempat salah kaprah dengan menyebut kalau di negara ini kaya akan sumberdaya uranium. Nyatanya hingga saat ini masih belum ada bukti yang cukup valid untuk menjelaskan terkait ketersediaan bahan baku tersebut.

"Saya mendapat data uranium bisa untuk 130 tahun itu tidak benar. Ada dua mantan Menristek mengatakan uranium melimpah karena di laut ada uranium. Keberadaan uranium ini kita belum ada bukti," kata Rinaldy dalam diskusi Energi Kita yang digelar merdeka.com, RRI, IJTI, IKN dan Sewatama di Restoran Bumbu Desa, Jakarta Pusat.

2. Keterbatasan SDM yang Ahli Dibidang Nuklir

Pasalnya, Indonesia sendiri mempunyai 3 reaktor nuklir dibawah pengawasan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). masing-masing terletak di Bandung, Yogyakarta serta Serpong. Tetapi, reaktor nuklir tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

Indonesia pula sudah melaksanakan kerja sama dengan beberapa negara-negara maju dalam pengembangan nuklir, tetapi masih saja ada keterbatasan dalam jumlah serta kualitas tenaga ahli nuklir di Indonesia.

Tidak hanya itu saja, dengan minimnya program pembelajaran resmi yang fokus pada pengembangan tenaga ahli nuklir pula jadi hambatan dalam meningkatkan tenaga ahli nuklir di Indonesia, Saat ini pendidikan tinggi yang mendalami ilmu nuklir baru ada 1 di indonesia, yakni di Universitas Gadjah Mada (UGM).

3. Penolakan Masyarakat Serta Imbas Terhadap Lingkungan

Pemikiran warga indonesia terhadap nuklir tidak begitu baik. Seperti yang kita bicarakan di atas tadi, masyarakat kerap mengeklaim nuklir cumalah selaku bom serta senjata perang, Padahal, nuklir juga bisa menjadi sumber tenaga yang murah serta bisa menciptakan tenaga listrik yang sangat besar.

Stigma yang menempel pada warga tersebut menimbulkan aksi penolakan pembangunan PLTN sebab danggap begitu membahayakan serta bakal berimbas negatif dari radioaktif untuk kesehatan.

Tidak hanya itu, pembangunan PLTN bisa mempunyai imbas yang negatif pada area sekitar, seperti imbas radiasi, pemakaian lahan yang luas, serta kenaikan volume limbah radioaktif. Oleh sebab itu, butuh dilakukan evaluasi akibat lingkungan serta sosial saat sebelum melaksanakan pengembangan nuklir di Indonesia.

4. Anggaran Pembangunan Tinggi

Pembangunan PLTN menelan anggaran pembangunan yang tidak sedikit, sebab PLTN membutuhkan infrastruktur yang sangat canggih serta kompleks, dan wajib memenuhi standar keselamatan yang sangat besar sebab kemampuan resiko yang besar dari kecelakaan nuklir.

Pandemi pula menimbulkan ketidakpastian ekonomi global, sehingga membuat para investor enggan buat mengambil resiko dalam berinvestasi di zona energi nuklir, termasuk PLTN. Apalagi negara kita tengah membutuhkan biaya yang besar untuk proyek Ibukota Nusantara (IKN).

Tidak hanya itu, pembangunan PLTN pula membutuhkan bahan-bahan yang sangat mahal serta sangat jarang seperti reaktor nuklir, turbin uap, dan sistem pengolahan serta penyimpanan limbah nuklir yang aman. Bahan-bahan ini hanya dibuat oleh beberapa negara tertentu di dunia serta mewajibkan Indonesia buat melaksanakan impor, yang pasti saja bakal menaikkan anggaran pembangunan PLTN.

Jadi setelah mengetahui mengapa pembangkit nuklir belum diterapkan di Indonesia, simak berita menarik lainnya di VOI.ID, saatnya merevolusi pemberitaan!