Janji Menhan Baru AS Jenderal Lloyd J. Austin III: Berantas Ekstremisme di Tubuh Militer
Jenderal Lloyd J. Austin III (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Pensiunan Jenderal Lloyd J. Austin III yang merupakan kandidat Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) berjanji memberantas ekstremisme. Hal tersebut dilakukan untuk mengatasi ancaman internal yang berkembang setelah kerusuhan di Gedung Capitol AS.

“Kami tidak pernah bisa melepaskan kendali atas hal ini,” kata Austin, yang akan jadi orang kulit hitam pertama yang menempati posisi itu.

Mengutip The Washington Post, Rabu, 20 Januari, Austin mengatakan hal tersebut di depan anggota parlemen, yang mempertimbangkan pencalonannya oleh Presiden terpilih AS Joe Biden. Tidak ada pihak militer AS yang hadir.

Pensiun 2016, Austin sebelumnya menjabat kepala Komando Pusat AS. Ia juga pernah menjabat komandan pasukan AS di Irak. Austin lalu menceritakan kisah di awal kariernya. Saat itu ia masih menjadi perwira muda di Divisi Lintas Udara ke-82. Austin mendapati pembunuhan pasangan Afrika-Amerika di dekat pangkalan divisi.

Kemudian, lebih dari 20 tentara diketahui memiliki hubungan dengan neo-Nazi atau kelompok ekstremis. Sebuah realisasi yang menyedihkan, kata Austin. Diketahui bahwa para pemimpin militer tidak mengetahui tanda-tanda tentang ancaman tersebut. “Kami hanya tidak tahu harus mencari apa,” katanya.

Referensi Austin terhadap insiden berusia 25 tahun itu menandakan urgensi tantangan militer saat ini dalam mengidentifikasi dan menangani arus anti-pemerintah dan rasisme. Hal tersebut adalah bagian kecil dari banyak masalah yang akan dia hadapi jika dia menjadi kepala Pentagon di pemerintahan Biden.

Austin, yang sejak pensiun tidak terlibat dalam pergolakan politik akan menghadapi sejumlah tantangan lain, termasuk mempercepat upaya untuk bersaing secara efektif melawan China, meredakan perang pemberontak, dan memperbaiki aliansi pertahanan yang tegang oleh permusuhan dari Presiden Trump. Dia juga harus bergulat dengan anggaran pertahanan.

Namun, sebelum semua itu dihadapi, Austin harus mengatasi rintangan lainnya. Terdapat persyaratan bahwa Menteri Pertahanan harus keluar dari militer setidaknya selama tujuh tahun.

Setelah pemilihan Trump pada 2016, anggota parlemen memilih untuk menyetujui pengabaian untuk Jim Mattis, mantan komandan yang telah pensiun kurang dari tujuh tahun. Saat itu Trump menunjuk Mattis sebagai calon Menteri Pertahanan.

Hanya saja dua kali persyaratan itu tidak digunakan. Namun beberapa anggota Partai Demokrat menyuarakan ketidaknyamanan dengan langkah itu. Mereka khawatir hal itu akan merusak tradisi kontrol sipil AS atas militer.

"Saya tahu bahwa menjadi anggota Kabinet presiden --orang yang diangkat secara politik-- membutuhkan perspektif yang berbeda dan tugas unik dari karier berseragam," kata Austin.

Beberapa senator, termasuk Tom Cotton, Elizabeth Warren, serta Tammy Duckworth akan menentang pemberian keringanan Austin, yang juga membutuhkan persetujuan DPR. Karena pemungutan suara konfirmasi akhir belum ada hasilnya hingga Jumat 22 Januari, David Norquist, Wakil Menteri Pertahanan saat ini, akan menjabat sebagai penjabat kepala Pentagon sampai Austin dikonfirmasi.

Sebelum pensiun, Austin tidak menonjolkan dirinya di publik daripada pejabat senior lainnya. Ia menolak mengundang wartawan untuk bergabung dengan turnya di Timur Tengah.

Keputusan itu mengurangi visibilitas publik ke dalam aktivitas pasukan AS yang beroperasi di wilayah tersebut. Menanggapi pertanyaan tentang masalah tersebut, Austin berjanji untuk melakukan briefing rutin dan wawancara TV dan terbuka kepada media sebagai Menteri Pertahanan.