Bagikan:

SULTENG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi memanfaatkan bambu untuk dibuat bronjong penahan banjir sebagai upaya mengurangi risiko bencana.

"Bambu memiliki daya tahan yang kuat terhadap air, sehingga digunakan untuk pertahanan berlapis demi mencegah banjir," ucap Wakil Bupati Sigi Samuel Yansen Pongi, di Sigi, , Sulawesi Tengah (Sulteng), Kamis 23 Februari, disitat Antara.

Pemanfaatan bambu sebagai bronjong penahan banjir, kata Samuel, telah dilakukan di beberapa desa di Sigi yang sungainya mengalami penurunan kualitas DAS.

Dalam implementasinya, ujar dia, Pemkab Sigi melibatkan multipihak salah satunya yakni relawan dan komunitas serta lembaga swadaya masyarakat.

Pemkab Sigi, ujar dia, memiliki program sejuta bambu. Melalui program sejuta bambu, pemerintah daerah mengadakan penyediaan bambu dan budidaya bambu untuk ditanam di daerah aliran sungai (DAS).

"Daerah kami banyak sungai, ketika hujan dengan intensitas deras mengguyur itu sangat memberikan risiko bencana kepada masyarakat, salah satu alternatif dan upaya yang dilakukan adalah menanam bambu di sepanjang sungai," katanya.

Pemerintah Kabupaten Sigi mengakui bahwa daerah itu rentan terhadap bencana alam banjir bandang dan longsor. Belum lagi, daerah itu masuk dalam jalur patahan gempa.

Menurut dia, perlu ada inovasi dan gerakan bersama untuk membangun mitigasi dan pencegahan bencana alam banjir bandang dan longsor, yang salah satunya yaitu mengembalikan kualitas daerah aliran sungai dengan menanam bambu.

Bambu, ujar dia, menjadi satu penahan air dan material dari sungai, sekaligus berfungsi untuk meningkatkan kualitas lingkungan utamanya DAS.

Karena itu, kata dia, program sejuta bambu ini dilaksanakan di semua desa di Kabupaten Sigi, melibatkan masyarakat dan pemerintah desa.

Adapun bronjong menggunakan bambu dengan harapan, bambu-bambu tersebut dapat tumbuh melalui ruas-ruas bambu, bambu yang berkembang tumbuh akan menjadi rumpun-rumpun bambu yang mampu menahan/mengurangi aliran laju air banjir.