Bagikan:

JAKARTA - Bentrokan berdarah yang terjadi antarpekerja PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) menewaskan 2 orang. Isu berhembus penyulut kericuhan lantaran penganiayaan pekerja warga negara asing terhadap pekerja warga negara (WNI) dan kekerasan terhadap pekerja perempuan.

Head of Human Resources and General Affairs PT GNI Muknis Basri Assegaf membantah isu yang beredar tersebut. Dia bilang, penyerangan terhadap karyawan terjadi saat jam operasional pabrik berlangsung sehingga aktivitas terhenti dan menimbulkan kerusakan parah.

Dia menuturkan, penjarahan terjadi terhadap 100 mess karyawan WNI, dan WNA. Serta sekitar enam alat berat dan kendaraan operasional milik perusahaan terbakar.

"Mereka juga menyerang TKA agar berhenti bekerja. Dan setelah muncul kericuhan, mereka kemudian membakar dan menjarah mess perempuan tenaga kerja lokal, hingga menjarah mess TNI kemudian membakarnya," ungkap Muknis dalam keterangan resmi, Senin 16 Januari, disitat Antara.

Muknis mengatakan, dalam bentrokan berdarah tersebut Polres Morowali Utara berhasil mengamankan 70 orang terduga pelaku. Akibat kejadian itu, kata dia, dua orang tewas, sembilan orang luka-luka.

Muknis menuturkan, PT GNI telah berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk investigasi secara menyeluruh terkait dengan insiden unjuk rasa berujung kerusuhan yang terjadi di PT GNI pada Sabtu 14 Januari tersebut.

"Kami sangat menyayangkan insiden tersebut. Pihak perusahaan akan berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk melakukan investigasi atas terjadinya peristiwa tersebut," tuturnya.

Muknis mengungkapkan, pada hari Minggu 15 Januari, telah dilakukan pertemuan yang dihadiri Direktur Intelkam Polda Sulteng dan Sekda Morut Musda Guntur yang didampingi Kapolres Morut dan Dandim Morowali dan Morowali Utara.

"Dalam pertemuan tersebut, semua pihak menyayangkan kejadian yang menimbulkan kerusakan dan merugikan banyak pihak, baik perusahaan, karyawan hingga warga sekitar pabrik yang terdampak aktivitas hariannya," tandasnya.