Bagikan:

JAKARTA - Korea Utara menembakkan dua rudal balistik jarak pendek di lepas pantai timurnya. Aksi ini dilakukan hanya sehari sebelum Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris tiba di Seoul, Korea Selatan.

Peluncuran rudal itu dilakukan dua hari setelah pasukan Korea Selatan dan AS melakukan latihan militer di perairan lepas pantai timur Selatan yang melibatkan sebuah kapal induk. Pada hari Minggu kemarin, Korea Utara telah menembakkan rudal balistik lain ke arah laut di lepas pantai timurnya.

Dikutip dari Channel News Asia, Rabu 28 September, rudal-rudal itu diluncurkan dari daerah Sunan di Pyongyang, ibu kota Korea Utara, antara pukul 18:10 dan 18:20 waktu setempat, kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan.

"Militer kami telah memperkuat pengawasan dan kewaspadaan sambil bekerja sama erat dengan Amerika Serikat," kata mereka dalam sebuah pernyataan.

Penjaga pantai Jepang juga melaporkan dugaan uji coba rudal balistik. Bagi Menteri Pertahanan Toshiro Ino sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.

"Serangkaian tindakan Korea Utara, termasuk peluncuran rudal balistik berulang, menimbulkan ancaman bagi perdamaian dan keamanan Jepang, kawasan dan masyarakat internasional," kata Ino.

Setelah berhenti di Jepang menghadiri pemakaman Shinzo Abe, Harris berkunjung ke Korea Selatan dan mengunjungi Zona Demiliterisasi (DMZ) yang dijaga ketat.

Dalam pidato beberapa jam sebelumnya di atas kapal perusak USS Howard di kota Yokosuka Jepang, Harris menyebut peluncuran rudal hari Minggu sebagai bagian dari program senjata terlarang yang mengancam stabilitas regional dan melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB.

Korea Utara (Korut) diprediksi dapat melakukan uji coba nuklir antara 16 Oktober hingga 7 November, menjadi yang pertama sejak tahun 2017, menurut kantor berita Korea Selatan (Korsel) Yonhap, mengutip anggota parlemen yang mendapat pengarahan dari badan intelijen nasional.

Persiapan untuk uji coba nuklir telah selesai di terowongan uji Punggye-ri Korea Utara, di mana Pyongyang melakukan enam uji coba nuklir bawah tanah dari tahun 2006 hingga 2017.

"NIS mengatakan jika Korea Utara melakukan uji coba nuklir, itu bisa terjadi antara Kongres Partai (Komunis) ke-20 China pada 16 Oktober dan pemilihan paruh waktu AS pada 7 November," seorang legislator, Yoo Sang-bum, mengatakan kepada kantor berita.

Dua pekan lalu, Korea Utara merilis poster propaganda baru, menampilkan rudal balistik berujung nuklir, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, setelah Pyongyang menyusun kebijakan nuklirnya dalam undang-undang baru.