Bagikan:

JAKARTA - Penumpang yang terbang dari Bali ke Australia ini mungkin tidak menyangka, dirinya harus membayar mahal gegara sarapan McDonald's yang dibawa olehnya.

Pelancong yang tidak disebutkan namanya itu didenda 2.664 dolar Australia atau sekitar Rp27.515.145 setelah dua telur dan sosis daging sapi McMuffins dan croissant ham yang tidak dilaporkan, ditemukan di bagasi saat tiba di Bandara Darwin, wilayah utara negara itu minggu lalu.

Insiden itu terjadi beberapa hari setelah pihak berwenang Australia memberlakukan aturan biosekuriti baru yang ketat, setelah wabah penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia menyebar ke Bali, tujuan populer bagi wisatawan Australia.

Departemen Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Australia mengatakan "berbagai produk berisiko yang tidak diumumkan", termasuk makanan cepat saji, terdeteksi di ransel penumpang oleh anjing pendeteksi biosekuriti bernama Zinta.

"Ini akan menjadi makanan Maccas termahal yang pernah dimiliki penumpang ini," kata Murray Watt, menteri pertanian, perikanan dan kehutanan, dalam sebuah pernyataan, melansir CNN 1 Agustus.

"Denda ini dua kali lipat biaya tiket pesawat ke Bali, tetapi saya tidak bersimpati kepada orang-orang yang memilih untuk tidak mematuhi langkah-langkah keamanan hayati Australia yang ketat, dan deteksi terbaru menunjukkan bahwa Anda akan ditangkap," tukasnya.

Pernyataan itu melanjutkan untuk mengkonfirmasi, penumpang telah dikeluarkan dengan "pemberitahuan pelanggaran karena gagal menyatakan potensi item berisiko tinggi biosekuriti, memberikan dokumen palsu dan menyesatkan." Produk yang disita akan diuji penyakit mulut dan kuku sebelum dimusnahkan.

darwin international airport
Darwin International Airport. (Wikimedia Commons/Kgbo)

"Australia bebas PMK dan kami ingin tetap seperti itu," tambah Watt.

Bulan lalu, pemerintah eksekutif federal Australia mengumumkan paket biosekuriti senilai 9,8 juta dolar AS, dengan langkah-langkah baru yang diperkenalkan di seluruh perbatasan negara, termasuk sanitasi alas kaki di semua bandara internasional dan anjing biosekuriti yang ditempatkan di Bandara Darwin dan Cairns, setelah penyakit yang sangat menular itu mulai menyebar.

Para ahli memperkirakan bahwa wabah di Australia dapat menghasilkan pukulan ekonomi hingga 80 miliar dolar AS.

"Wisatawan yang datang dari Indonesia akan berada di bawah pengawasan biosekuriti yang lebih ketat, karena adanya penyakit Mulut dan Kuku (PMK)," bunyi pernyataan yang dirilis oleh Departemen Pertanian, Perikanan dan Kehutanan pada 19 Juli.

"Gagal untuk menyatakan risiko biosekuriti akan berarti pelanggaran undang-undang biosekuriti Australia, dan siapa pun yang ditemukan melanggar dapat diberikan pemberitahuan pelanggaran hingga 2.664 dolar AS."

"Wisatawan yang memasuki Australia dengan visa sementara dapat dibatalkan visanya dan, jika demikian, akan ditolak masuk ke Australia."

Diketahui, meskipun PMK relatif tidak berbahaya bagi manusia, penyakit ini menyebabkan lecet dan luka yang menyakitkan pada mulut dan kaki hewan berkuku belah seperti sapi, domba, babi, kambing dan unta, menghentikan mereka dari makan dan menyebabkan kepincangan parah dan kematian dalam beberapa kasus.

Penyakit ini dapat dibawa oleh hewan hidup, dalam daging dan produk susu, serta pada pakaian, alas kaki, atau bahkan barang bawaan orang yang telah melakukan kontak dengan hewan yang terinfeksi.

"Dampaknya pada petani jika penyakit kaki dan mulut masuk, terlalu memilukan untuk dipikirkan," terang pesiden Federasi Petani Nasional Fiona Simson kepada CNN bulan lalu.

"Tapi ini bukan hanya tentang petani. Menghapus 80 miliar dolar AS dari PDB Australia akan menjadi bencana ekonomi bagi semua orang."