Bagikan:

JAKARTA - Rusia menyebut seluruh informasi mengenai nasib tentara musuh yang ditahan atau dihukum disampaikan ke publik, saat dua warga negara Amerika Serikat dinyatakan hilang di Ukraina.

Dua warga AS yang melakukan perjalanan ke Ukraina sebagai pejuang sukarelawan menghadapi Rusia, sudah sepekan belakangan menghilang, membuat pihak keluarga khawatir akan nasib mereka.

Alexander Drueke (39) dari Tuscaloosa, Alabama dan Andy Huynh (27) dari Hartselle, Alabama, terakhir berhubungan dengan keluarga mereka pada 8 Juni dan tidak kembali dari misi di sekitar wilayah Kharkiv di Ukraina timur.

Laporan bahwa keduanya telah ditawan oleh Rusia belum dikonfirmasi, kata keluarga dan juru bicara Departemen Luar Negeri AS.

"Apa yang kami ketahui secara resmi saat ini dari Departemen Luar Negeri adalah, Andy dan Alex hilang," Joy Black, tunangan Andy, mengatakan melalui telepon, melansir Reuters 16 Juni.

"Kami tidak memiliki konfirmasi untuk apa pun di luar itu. Jelas semakin lama pencarian semakin kami mulai mempertimbangkan skenario lain," tambahnya.

"Ketika Andy melihat rekaman ini keluar dari Ukraina, dia mengatakan dia tidak bisa tidur, tidak bisa makan, hanya termakan oleh kengerian yang dialami warga sipil tak berdosa ini," ungkap Black.

Adapun Lois Drueke, ibu Alexander, mengatakan dia telah melakukan kontak dengan Kedutaan Besar AS untuk Ukraina, yang berlokasi di Polandia, yang sedang mencari pasangan tersebut.

Sebelumnya, kedua pria itu telah memberi tahu keluarga mereka pada 8 Juni, bahwa mereka akan offline selama beberapa hari, tetapi tidak memberikan perincian, karena takut komunikasi mereka disadap.

Terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan, Amerika Serikat belum menghubungi Rusia mengenai laporan para pejuang AS.

"Saya tidak memiliki informasi itu, saya memeriksa setiap hari, dan saya akan memeriksa hari ini. Kami membuat semua informasi tentang nasib tentara bayaran yang ditahan, atau mereka yang dijatuhi hukuman ke publik," terang Zakharova seperti dilaporkan kantor berita RIA.

Belum ada komentar langsung dari Kementerian Pertahanan Rusia, mengenai kabar hilangnya kedua warga Negeri Paman Sam tersebut.

Jika pasangan itu ditangkap, mereka akan menjadi warga AS pertama yang dikonfirmasi telah diambil sebagai tawanan perang dalam konflik yang dimulai pada 24 Februari, usai Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi ke tetangganya.

Sementara itu, juru bicara keamanan nasional Gedung Putih John Kirby mengatakan bahwa jika laporan itu benar, Amerika Serikat "akan melakukan segala yang kami bisa" untuk mendapatkannya kembali. Baca selengkapnya

Pekan lalu, dua warga negara Inggris dan seorang Maroko dijatuhi hukuman mati, oleh pengadilan separatis di Republik Rakyat Donetsk (DPR) yang berbahasa Rusia, setelah tertangkap sedang berperang untuk Ukraina.

Diketahui, Drueke menjalani dua misi penugasan di Irak, yang terakhir sebagai penembak utama di Baghdad pada 2008-09, kata ibunya. Huynh adalah mantan marinir AS yang meninggalkan dinas pada 2018, kata tunangannya.

Mereka mengatakan orang-orang itu tidak saling mengenal sebelum bertemu di Ukraina, tetapi keduanya merasa terdorong untuk mendukung pemerintah setelah melihat foto-foto korban sipil saat Rusia mundur dari kota-kota di luar Kyiv pada akhir Maret.

"Sebagai seorang ibu tentu saja saya tidak ingin anak saya dalam bahaya. Tetapi saya tahu bahwa itu sangat penting bagi Alex, dia menginginkan tujuan dalam hidupnya dan dia merasa bahwa ini baik dan mulia," pungkas Lois Drueke.