MAKI: Tak Ada Relevansinya Firli Bahuri Mudik Naik Helikopter karena Kejar Waktu
Helikopter yang dinaiki Ketua KPK Firli Bahuri (Foto: Dokumentasi MAKI)

Bagikan:

JAKARTA - Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman meragukan alasan Ketua KPK Firli Bahuri menaiki helikopter saat mudik ke Baturaja, Sumatera Selatan hanya demi menghemat waktu. MAKI menganggap alasan itu tidak ada relevansinya.

Boyamin meyakini laporannya ini sudah tepat. Sebab, dia sempat melakukan rekonstruksi perjalanan dari Palembang-Baturaja seperti yang dilakukan Firli dengan menggunakan jalur darat. Hasilnya, perjalanan itu hanya memakan 4,5 jam.

"(Perjalanannya, red) hanya membutuhkan waktu 4,5 jam dan waktu itu saya sempat sarapan, sarapan bubur. Jadi sebenarnya kalau pakai kendaraan apalagi Pak Firli pakai voorijder, saya yakin tiga jam sampai," kata Boyamin kepada wartawan sebelum mengikuti sidang etik dengan Firli sebagai terperiksa di Gedung ACLC, Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa, 25 Agustus.

Menurutnya, jalan dari Palembang ke Baturaja beberapa waktu lalu memang rusak karena banyaknya truk pengangkut batu bara. Karena jalanan rusak ini, waktu tempuh perjalanan bisa mencapai lima jam.

Namun, keadaan ini sudah berubah. Menurut Boyamin, saat ini kondisi jalanan tersebut sudah mulus dan banyak jalan pintas. Sehingga jika menggunakan pengawal dan melewati jalan pintas maka waktu tempuhnya tidak akan lama.

"Sehingga relevansi naik helikooter demi efisiensi (waktu, red) itu jadi agak diragukan, hanya alasan. Kalau ini terbukti bergaya hidup mewah berarti ini sesuai dengan laporan saya," tegasnya.

Boyamin juga mengomentari pernyataan Firli yang mengatakan helikopter itu bukanlah gratifikasi namun dia menyewa karena mampu. Menurutnya, meski eks Kapolda Sumatera Selatan itu bergaji besar atau lebih dari cukup namun tidak ada relevansinya untuk menyewa helikopter.



Apalagi, saat pergi ke kampung halaman, Firli mengambil cuti di hari Jumat. Dia kemudian membandingkan dengan perjalanannya.

"Saya juga berangkat jam 5 sore dari Palembang, Sabtu pagi berangkat (ke Baturaja, red), siangnya masih bisa ke tempat besannya Pak Firli santai-santai ada sawahnya, dan sorenya sudah sampai lagi ke Palembang. Besoknya kan hari minggu, apa yang mau dikejar, gitu lho," jelasnya.

"Jangankan gajinya cukup, lebih dari cukup pun tidak ada relevansinya naik helikopter untuk pulang kampung," imbuh dia.

Sebelumnya, Ketua KPK Firli Bahuri menegaskan dirinya tidak pernah menerima gratifikasi penggunaan helikopter. Hal ini disampaikannya untuk menjawab sejumlah dugaan yang muncul jelang sidang dugaan pelanggaran kode etik yang akan dilangsungkan pada Selasa, 25 Agustus.

Menurutnya, segala tudingan yang ditujukan terhadap dirinya jika dia menganut gaya hidup mewah karena menggunakan helikopter tidak tepat. Firli mengatakan, penggunaan helikopter beberapa waktu lalu saat dirinya berkunjung ke Baturaja, Sumatera Selatan hanya untuk mempersingkat waktu tempuh dari Palembang ke Baturaja. 

"Sekali lagi saya sampaikan, saya tidak menganut hidup mewah tetapi saya lakukan karena kebutuhan dan tuntutan kecepatan tugas. Saya gunakan uang gaji saya untuk mendukung kelancaran dan kemudahan tugas-tugas. Saya sewa dan saya sudah jelaskan kepada Ketua Dewas Pak Tumpak," kata Firli dalam keterangan tertulisnya yang dikutip Senin, 24 Agustus.

"Saya tidak menerima gratifikasi dan tidak menerima hadiah. Semua saya kerjakan untuk kemudahan tugas saya dan bukan untuk kemewahan. Gaji saya cukup untuk itu membayar sewa heli dan ini bukan hidup mewah, semua biaya saya bayar sendiri," imbuh dia.