Babak Baru PDIP-Golkar, 'Rebutan' Ganjar Hingga Beda Pendapat soal Kebakaran Kilang Cilacap
Ilustrasi (Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Perseteruan PDIP dan Partai Golkar sepertinya bakal terus berlanjut. Usai saut menyaut antara Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto dengan Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar Nurdin Halid yang menggemparkan perpolitikan Tanah Air gara-gara 'rebutan' Ganjar Pranowo. 

Kini merambat ke silang pendapat soal kebakaran kilang minyak Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah. Dugaan ada unsur kesengajaan oleh Fraksi PDIP ditepis mentah-mentah oleh anggota Fraksi Golkar di DPR. 
 
Mulanya, perseteruan berawal dari candaan Nurdin saat menjadi pembicara dalam diskusi di kompleks MPR/DPR, Jakarta, Kamis, 11 November. Dalam diskusi tentang fenomena kemunculan relawan Pilpres 2024 itu, Nurdin berkelakar Golkar akan menerima Ganjar jika tak mendapat tempat di PDIP.

Perwakilan relawan pendukung Ganjar, yang menamakan diri mereka Ganjarist, juga menjadi pembicara dalam diskusi tersebut. Ketua Ganjirst, Mazdjo Pray hadir secara langsung.

"Apakah nanti aspirasi relawan ditolak atau tidak ditolak itu tidak penting, yang penting adalah suara Golkar adalah suara rakyat, suara rakyat adalah suara Golkar," kata Nurdin di Gedung DPR, Kamis, 11 November. 

"Jadi adinda Mazdjo tidak usah khawatir, nanti kalau Ganjar tidak mendapat tempat di partainya ada Golkar terbuka, apakah nomer satu nomer dua itu soal nanti," imbuhnya.

Menurut Nurdin, Golkar siap menjadi rumah baru untuk Ganjar. Namun, Ganjar diingatkan agar menganggap menjadi pemilik Golkar.

"Pak Airlangga tidak mungkin maju sendiri pasti ada wakil, karena ada aspirasi Mazdjo, di tempatnya tidak ada tempat ini ada rumah baru, tapi ketika kita masuk dalam sebuah rumah yang baru tidak cuma kontrak, jangan jadi pemilik. Bersama-sama dulu baru jadi pemilik," sebut Nurdin.
 
Menyikapi itu, PDIP pun bereaksi. Tanggapan Hasto atas kelakar Nurdin Halid memang cukup mengagetkan. Hasto menuding Nurdin sudah beberapa kali membujuk Ganjar, namun ditolak.

"Apa yang ditawarkan oleh salah satu elite Golkar tersebut, yakni Pak Nurdin Halid, barangkali menggambarkan keputusasaannya setelah berulang kali membujuk Ganjar Pranowo, namun Bung Ganjar tidak tertarik, dan setiap kali ditanya terkait persoalan capres-cawapres, Bung Ganjar lebih memilih kerja untuk rakyat menangani pandemi," sebut Hasto, kepada wartawan, Jumat, 12 November. 

Hasto menyebut Ganjar lahir dari proses kaderisasi. Dia pun meyakini Gubernur Jawa Tengah itu memahami dan taat pada AD/ART partai.

Sekjen PDIP dua periode itu lalu mengungkit jasa-jasa para pihak yang membuat Ganjar terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah. Menurut Hasto, sejarah itu yang membuat Ganjar paham bahwa urusan Pilpres 2024 di tangan Megawati Soekarnoputri.

"Dari proses menjadi Gubernur sendiri, Bung Ganjar tahu betul ketika dicalonkan sebagai gubernur, saat itu elektoralnya jauh di bawah incumbent. Hanya karena melalui kerja kolektif, gotong royong, yang menyatu dengan rakyat, Bung Ganjar bisa diperjuangkan sebagai Gubernur Jawa Tengah," papar Hasto.

"Kesadaran terhadap aspek historis ini menjadikan Bung Ganjar memahami bahwa urusan capres-cawapres kongres partai telah menyerahkan kepada Ibu Ketua Umum Partai," sambung dia.

Selain Hasto, elite PDIP Hendrawan Supratikno juga ikut dalam perseteruan. Hendrawan menganggap Nurdin Halid tidak kredibel membicarakan capres-cawapres Golkar.

"Sebagai patokan, pernyataan yang serius dan kredibel biasanya datang dari Ketua Umum partai dalam forum yang jelas dan mengikat. Kalau tidak itu pasti tetabuhan orkestrasi politik saja," terang Hendrawan.
 

Tanggapan soal Kebakaran Kilang Pertamina Cilacap

Pada Sabtu, 13 November, ada kabar kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah, terbakar.
 
Fraksi PDIP DPR RI meragukan kebakaran kilang lantaran faktor alam akibat Sambaran petir. Pasalnya, kilang minyak merupakan objek vital yang keamanannya sangat terjaga.
 
Anggota Komisi VII DPR Adian Napitupulu, mempertanyakan faktor sebenarnya yang terjadi sebagai penyebab terbakarnya kilang minyak tersebut. Dikatakannya, PDIP kurang yakin alasan kebakaran berasal dari sambaran petir. 
 
"Petir itu terjadi bisa kapan saja. Dengan kemampuan teknologi sekarang, harusnya pengamanan bisa jauh lebih baik. Melihat sudah terjadi berkali-kali masa iya sih tidak apa perbaikan sama sekali? Saya kira sih tidak ada upaya untuk memperbaiki agar tidak terjadi peristiwa yang sama. Karena terjadi berkali-kali, kita melihat jangan-jangan tidak cuma karena faktor alam, mungkin tidak terbuka faktor-faktor yang lain? Misalnya human error'," ujar Adian di ruang Fraksi PDIP, Gedung Nusantara I Komplek Parlemen, Senayan, Senin, 15 November. 
 
Sementara, Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi PDIP Nasyirul Falah Amru, menduga ada unsur kesengajaan dalam kebakaran kilang yang berisi bahan bakar minyak jenis pertalite itu. Dia tak yakin kilang terbakar akibat sambaran petir. 
 
"Konon katanya, pengamanannya adalah standar internasional, standar internasional kalah dengan petir. Nah, ini semuanya irasional semua, kalau disampaikan bahwa itu adalah faktor petir. Jadi sabotase adalah hal yang mungkin dan sangat kita duga," ujar Nasyirul di Ruang Fraksi PDIP, Nusantara I Komplek Parlemen, Senin, 15 November.

Dia heran, sudah berulangkali terjadi kebakaran dan meminta dilakukan investigasi menyeluruh tetapi hingga kini Pertamina belum juga merealisasikan permohonan tersebut. 
 
"Pada bulan Juni kemarin ketika Balongan terbakar, kilang Balongan terbakar, fraksi PDIP Perjuangan juga sudah meminta untuk melakukan investigasi secara menyeluruh. Tapi sampai sekarang itu tidak dilakukan," katanya. 
 
Menanggapi itu, Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Nusron Wahid, mengingatkan pihak tertentu untuk tidak perlu mengembangkan spekulasi-spekulasi terkait kebakaran kilang minyak Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah. Pasalnya, ada dugaan kebakaran kilang minyak merupakan sabotase atau ada unsur kesengajaan.  
 
"Kebakaran ya kebakaran yaudah gitu aja. Sekarang kita serahkan kepada pihak yang berwajib, pihak yang berwenang untuk melakukan penyelidikan, polisi, apa sebab muasalnya dari kebakaran kilang tersebut. Jangan dikembangkan spekulasi yang aneh-aneh supaya dalam rangka impor dan sebagainya. Enggak! Kejauhan itu. Itu pikiran kotor dan pikiran yang suudzon," ujar Nusron di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 16 November. 

Meski banyak pihak yang heran lantaran kebakaran kilang Cilacap terus berulang, namun politikus Golkar itu tidak mau beranggapan miring. Menurutnya, lebih baik Pertamina dan Kementerian BUMN serta pihak berwajib menginvestigasi menyeluruh kebakaran tersebut. 

"Makanya sekarang diinvestigasi, kemudian diumumkan kepada publik supaya enggak jadi fitnah. Kemudian, pihak pertamina juga belajar. Dia kelola manajemennya sebab musababnya, kok sampai kebakaran berkali-kali. Tapi kalau kemudian ini ditarik karena ini impor dsb, saya kira terlalu jauh. Ini sama kayak ada gadis cantik masuk RS,  jangan-jangan mau masuk RS supaya enggak dilamar menunggu ini, terlalu jauh itu," terang Nusron. 

Nusron mengatakan belum ada rencana pembentukan panitia kerja untuk mengusut kebakaran kilang Pertamina. 

"Belum ada panja bahwa yang bersangkutan diundang rapat iya tapi kalau panja belum," kata Nusron. 
 
Lantas apa lagi yang akan terjadi pada Golkar dan PDIP?