Eksploitasi Emosi dalam <i>The World of the Married</i> dan Judul Drakor Lainnya
Ilustrasi (Ilham Amin/VOI)

Bagikan:

Kita telah mengulas judul-judul drama Korea (drakor) legendaris lewat "Deretan Drakor Legendaris dan Paling Berpengaruh bagi Industri Hiburan Korea Selatan". Masih bagian Tulisan Seri khas VOI, "Invasi Drama Korea". Sekarang kita dalami karakteristik drakor, termasuk eksploitasi emosi yang membuat penonton Indonesia berlaku konyol, mencaci maki salah satu bintang drakor The World of the Married, Han So Hee karena perannya dalam drakor populer itu.

 

Diceritakan kehidupan Ji Sun Woo (Kim Hee Ae) yang nampak sempurna di awal. Kariernya cemerlang. Ia menjabat posisi tinggi di salah satu rumah sakit di Korea Selatan. Kehidupan pribadi Sun Woo pun penuh cinta, bersama anak dan suaminya, Lee Tae Oh (Park Hae Joon). Namun, kehidupan itu berubah ketika Yeo Da Kyung (Han So Hee) muncul. Ia merebut hati Lee Tae Oh. Segala konflik drakor tentang perselingkuhan ini dimulai.

Baris paragraf di atas adalah sinopsis drama Korea (drakor) populer rilisan 2020, The World of the Married. Konflik rumah tangga yang diangkat sebagai tema begitu memancing emosi, khususnya bagi penonton Indonesia. Perselingkuhan antara Tae Oh dan Da Kyung mengikat mereka. Akun Instagram So Hee, @xeesoxee jadi sasaran. Para penonton menghujani kolom komentar unggahan-unggahan So Hee dengan caci maki.

Saking masifnya cacian penonton Indonesia terhadap So Hee, kata "pelakor" sempat viral di Korea Selatan. Reaksi penonton Indonesia itu bahkan memancing tim produksi The World of the Married ikut bicara. Mereka sadar betul dua sisi mata uang di balik kondisi ini. Sedikit mencemaskan memang respons penonton Indonesia --terutama bagi So Hee. Namun, di lain sisi, mereka mencium kesuksesan judul garapan mereka di Indonesia.

“Secara partikular, Indonesia adalah salah satu daerah yang merasakan 'Korean Wave'. Banyak aktor drama yang memainkan drama berlatar belakang Indonesia, seperti Lee Young Ae dan Hyun Bin.” dilansir StarToday, 2 Mei lalu.

Parasocial relationship

Kami membahas ini bersama psikolog klinis, Nadya Pramesrani. Secara umum, fenomena di atas berkaitan erat dengan parasocial relationship. Pada dasarnya, parasocial relationship terkait dengan kekaguman seseorang pada sosok tertentu. Kekaguman itu memunculkan imajinasi hubungan tertentu dengan sosok yang dikagumi.

Horton and Wohl, dalam jurnal Mass Communication and Para-Social Interaction: Observations on Intimacy at a Distance menjelaskan, sifat utama dari parasocial relationship adalah hubungan satu arah. Menurut jurnal ini, terbangunnya parasocial relationship amat erat didasari oleh pengalaman emosi. Kekuatan Parasocial relationship amat bergantung pada personalitas dan karakter sosok idola.

Namun, parasocial relationship nyatanya tak melulu soal nilai positif dan kekaguman. Ia juga berlaku untuk kebencian. Inilah hubungan yang terjadi antara penonton The World of the Married dan So Hee. Nadya menjelaskan, persona kekaguman dalam The World of the Married diarahkan pada Hee Ae. Sementara, kebencian dilampiaskan pada So Hee. 

“Itulah bukti parasocial relationship ini memiliki kelebihan sekaligus kelemahan. Kelebihannya bisa membuat orang berterima kasih dan kagum kepada idolanya. Kekurangannya justru terletak pada perilaku agresif (mencaci maki),” ungkapnya kepada VOI, 9 Mei.

Benang merah drama dan emosi

Bagaimapun, drakor adalah drakor. Kesejatiannya adalah drama. Pun, drama tetaplah drama. Sejak dulu, salah satu kekuatan dari tayangan drama adalah ikatan pada emosi penonton. Bukan satu-satunya indikator. Tapi, drama yang baik akan ikut di kepala dan dada penonton selepas tayangan disaksikan.

Begitu setidaknya dari sisi psikologi. Nadya menjelaskan, secara umum, drama --tak hanya drakor-- memiliki kecenderungan kuat menguras emosi. Bagaimanapun, neurosains menempatkan manusia sebagai makhluk emosional. Kedekatan jadi penting. Dan segala karya drama mengedepankan itu sebagai cara menguasai khalayak.

“Tak cuma drakor. Coba kalau nonton drama dari Negeri Paman Sam, Grey’s Anatomy (2005), misalnya. Pada serial itu, emosi juga dapat campur aduk. Atau contoh yang lain, misalnya, Friends (1994) atau How I Met Your Mother (2005) yang dapat memunculkan tawa. Semua itu ramuannya sama. Yakni, kedekatakan isu," tutur Nadya.

Kedekatan itu juga yang membuat The World of the Married begitu digilai penonton Asia, khususnya Indonesia. “Jadi, meskipun tidak sama persis dengan situasi masing-masing individu, namun serial-serial seperti itu dapat memancing orang untuk merefleksikan sembari melihat kembali cerita hidupnya,” kata Nadya.

Hal ini diakui Ashanti Widyana, pengamat budaya Korea Selatan sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Korea di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Menurutnya, drakor memiliki akar kuat sebagai karya drama. Hal itu juga diperkuat dengan akar sejarah drakor yang lahir dari teater panggung.

Karenanya, meski telah mengalami perkembangan serius dari segi pemilihan tema, unsur emosi yang mengaitkan drama tetap jadi formula utama. Segala formula inilah yang menurut Ashanti memperkokoh posisi drakor sebagai pilihan tontonan.

“Kalau saya lihat, drakor yang berkembang akhir-akhir ini mulai banyak menggunakan tema-tema yang banyak di luar akal manusia. Benar-benar fantasi. Ada juga yang berusaha dekat dengan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, tema maupun topik menjadi sangat luas. Mereka tidak melulu mengikuti tren yang ada,” ucapnya.

Memahami bahasan ini tentu jadi penting. Drakor tetaplah drakor. Drama tetaplah drama. Begitulah adanya. Eksploitasi emosi jadi unsur yang penting untuk dibangun di sana. Tinggal penonton, seberapa jauh menghendaki hanyutnya diri dalam emosi. Yang jelas, menjaga rasionalitas tetap segalanya, bukan?

 

Ikuti Tulisan Seri edisi ini: Di Balik Layar The World of the Married: Kontroversi dan Tekanan Masyarakat Konservatif Korsel