Presiden Taiwan Akui Militernya Dilatih Amerika, Beijing: AS Harus Mematuhi Prinsip Satu China

JAKARTA - China mengkritik keras pengakuan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, terkait dengan pengakuan ancaman dari Beijing, serta adanya kontak dan pelatihan dengan militer Amerika Serikat.

Ketegangan atas masalah Taiwan telah meningkat selama sebulan terakhir, ketika Beijing mengerahkan sekitar 150 pesawat militer ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan (ADIZ).

Sementara itu, Taipei telah memperingatkan China memiliki kemampuan untuk melakukan invasi penuh pada tahun 2025, dengan Presiden Amerika Serikat Joe Biden berjanji akan membela Taiwan jika diperlukan.

"AS harus mematuhi prinsip Satu China dan ketentuan dari tiga komunike AS-China. Kami sangat menentang setiap kontak resmi dan militer antara AS dan Taiwan, serta campur tangan AS dalam urusan dalam negeri China", kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin dalam keterangan persnya, menekankan hubungan China-Amerika Serikat didasarkan pada prinsip Satu China, mengutip Daily Sabah 28 Oktober.

Pernyataan itu muncul setelah Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengkonfirmasi kepada CNN dalam sebuah wawancara, terkait kehadiran pasukan khusus Amerika Serikat hadir di pulau itu untuk melatih militer mereka.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Tsai juga mengklaim "ancaman" dari China meningkat setiap hari dan menyatakan keyakinannya pada dukungan Washington jika terjadi serangan.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Tsai menjadi pemimpin pertama Taiwan yang mengakui kehadiran pasukan Amerika Serikat di wilayahnya untuk memberikan pelatihan, mengutip CNN 28 Oktober.

Secara resmi, garnisun terakhir Amerika Serikat angkat kaki dari negara itu pada tahun 1979, seiring dengan pengalihan pengakuan diplomatik resmi Washington dari Taipei ke Beijing. Meskim laporan mendia mengisyaratkan masih ada pengerahan dalam skala kecil.

Ilustrasi militer Taiwan. (Wikimedia Commons/中華民國總統府)

Militer AS sempat mengunggah meski kemudian menghapus video pada awal 2020 yang menunjukkan pasukan khusus Angkatan Darat AS melatih tentara di Taiwan. Pada November 2020, Kementerian Pertahanan Taiwan mengumumkan dan kemudian membantah kepada media lokal, jika pasukan AS sedang melatih tentara mereka di pulau itu.

"Kami memiliki berbagai kerja sama dengan AS yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan kami," katanya, kendati tidak merinci jumlah tentara AS yang melatih mereka, namun menggaris bawahi tidak sebanyak yang diperkirakan orang.

Untuk diketahui, Taiwan telah diperintah secara independen dari China daratan sejak 1949, setelah berakhirnya perang saudara di negara itu. Sementara, Beijing menganggap pulau itu sebagai provinsinya.

Taiwan, wilayah dengan pemerintahannya sendiri yang dipilih secara demokratis, berpendapat mereka adalah negara otonom dan memiliki hubungan politik dan ekonomi dengan beberapa negara lain yang mengakui kedaulatannya.

Presiden Tsai mengatakan, dia yakin jika Taiwan diserang dari daratan China, AS dan negara-negara demokrasi regional lainnya akan membantunya, "mengingat hubungan jangka panjang yang dimiliki dengan AS."

"Taiwan tidak sendirian karena kami adalah negara demokrasi, kami menghormati kebebasan dan kami adalah pecinta perdamaian. Dan kami berbagi nilai dengan sebagian besar negara di kawasan ini dan secara geografis kami memiliki kepentingan strategis," paparnya, menunjuk pada peran utama pulau itu dalam rantai pasokan semikonduktor global.