Ketika Presiden Prabowo Subianto Seakan Menolak Fakta Nilai Tukar Rupiah Anjlok

JAKARTA – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa masyarakat di desa tidak menggunakan uang dolar dalam kehidupan sehari-hari dianggap ekonom bisa menjadi bumerang atas anjloknya rupiah.

"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke," ujar Prabowo saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Pernyataan tersebut dilontarkan Prabowo di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sebagai informasi, rupiah menembus level Rp17.500 per dolar AS pada Jumat (15/5/2026), dan mencapai Rp17.683 pada Senin (18/5).

Selain itu, Prabowo juga meminta publik tak perlu khawatir selama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih bisa tersenyum. Mereka yang resah terhadap pelemahan rupiah, menurut Prabowo, adalah para pengusaha dan yang kerap pelesiran ke luar negeri.

Presiden Prabowo Subianto berpidato saat acara peresmian Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). (ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden)

"Percaya lah, ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Orang mau ngomong apa, Indonesia kuat," pernyataan Prabowo ini langsung disambut tepuk tangan para undangan.

Pernyataan Prabowo bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar mendapat sorotan dari sejumlah pengamat ekonomi. Sang presiden dinilai kurang memahami masalah yang tengah dihadapi Indonesia saat ini.

Kurang Paham Masalah

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar terus terjadi dalam beberapa waktu ke belakang. Pada Januari, rupiah berada di level Rp16.700 hingga Rp16.900 per dolar. Pada Mei, nilai tukar rupiah terhadap dolar terus merosot hingga Rp17.629 dan menjadi rekor terlemah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kian terpuruk membuat sejumlah pengamat khawatir. Namun situasi ini justru ditanggapi santai oleh Prabowo.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan Prabowo kurang memahami masalah yang tengah dihadapi Indonesia. Meski faktanya masyarakat desa memang tidak menggunakan dolar AS untuk bertransaksi, tapi mereka akan tetap terdampak pelemahan rupiah.

Bhima menegaskan, ekonomi Indonesia semakin terintegrasi dengan sistem global, di mana kebutuhan masyarakat desa terkait dengan barang impor.

“Harga pupuk untuk menanam beras, sampai tempe dan tahu yang kedelainya impor semua terpengaruh dolar. Jangan dikira pelemahan nilai rupiah terhadap dolar tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di desa,” ucap Bhima melalui pesan singkat kepadaVOI.

Aktivitas pedagang di salah satu pasar tradisional di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. (ANTARA/HO-Dokumen Pribadi)

Dihubungi terpisah, Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda juga mengkritik pernyataan Prabowo terkait “kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar tidak masalah karena rakyat di desa tidak menggunakan dolar”.

Masyarakat desa, kata Huda, pada kenyataannya masih mengonsumsi barang-barang yang bahan bakunya impor, seperti kedelai yang pasti mengalami kenaikan harga ketika rupiah melemah terhadap dolar AS. Demikian pula dengan pupuk, ada komponen impor yang membuat produksi beras semakin mahal, harga meningkat.

“Jadi dampak kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS banyak kepada rakyat di desa, ataupun kota,” Huda menjelaskan.

“Seharusnya ini yang disampaikan oleh seorang kepala negara. Kewaspadaan terhadap pelemahan rupiah yang bisa berakibat pada harga-harga barang dan sebagainya,” imbuhnya.

Dampak Pernyataan Blunder Prabowo

Pernyataan Presiden Prabowo bahwa masyarakat desa tidak menggunakan uang dolar dalam bertransaksi menyimpan sejumlah risiko. Bhima Yudhistira khawatir, kata-kata yang bernada over optimistis dari presiden malah membuat masyarakat tidak siap menghadapi tekanan ekonomi.

“Begitusudden shock, kaget, dan yang dirugikan adalah masyarakat desa yang tidak punya persiapan apa-apa,” kata Bhima.

Sementara itu, Nailul Huda menuturkan, pernyataan Prabowo kemarin bisa membuat investor khawatir akan arah kebijakan pemerintah yang dipandang semakin tidak kredibel.

“Investor itu selalu melihat reaksi dari pemerintah akan sebuah kondisi. Jika respon pemerintah dianggap negatif, maka investor akan melihat negatif juga,” tutur Huda.

Ketika presiden“denial”terhadap masalah pelemahan ini misalnya, investor sektor riil akan ragu masuk ke Indonesia karena bisa dianggap tidak penting.

“Padahal mereka juga melakukan impor bahan baku yang mana dipengaruhi oleh nilai tukar,” sambung Huda.

Ekonom Yanuar Rizky menilai Presiden Prabowo Subianto seharusnya mencontoh Perdana Menteri Singapura, dengan berbicara jujur tentang kondisi ekonomi negara tanpa menyalahkan pihak lain.

Selain itu, pemerintah sebaiknya memberikan rasa percaya kepada masyarakat dengan menerangkah langkah apa saja yang diambil supaya kondisi tidak semakin buruk.

“Artinya, negara ini tidak menunjukkansense of crisis,dan kalau presidennya tidak menunjukkan itu, berbahaya,” pungkasnya.