JAKARTA - Ketua DPP PDIP Bidang Kehormatan, Komarudin Watubun. menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut rakyat desa tak menggunakan mata uang dolar menyikapi pelemahan rupiah hingga menembus angka Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menurutnya, pernyataan Prabowo tidak tepat karena meskipun keseharian masyarakat desa tak memakai dolar namun akibat anjloknya nilai tukar rupiah mengakibatkan harga pokok nasional melonjak naik.
"Kalau dalam konteks orang desa itu menggunakan rupiah, iya. Tapi dalam konteks kehidupan mereka, ya ada pengaruhnya. Karena itu saya kira itu masalah dasar, orang kampung juga pasti mengerti. Karena dengan nilai rupiah anjlok seperti ini, kan berpengaruh pada harga barang akan naik," ujar Komarudin di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin, 18 Mei.
"Barang impor termasuk BBM, pupuk, elektronik, gandum, itu yang makan-makan di kafe beli roti dari gandum kan pasti harga akan naik. Jadi ya kalo presiden dalam konteks penggunaan alat tukar rupiah di desa, iya. Tapi jangan lupa loh sekarang desa-desa itu banyak juga pelaku transaksi ekspor impor, yang kita tau juga berpengaruh. Jadi saya pikir (pernyataan Prabowo) tidak tepat karena itu sangat mempengaruhi sektor-sektor lain," sambungnya.
Anggota Komisi II DPR itu menekankan jika harga BBM naik maka otomatis semua harga barang pasti akan naik. "Sekarang pesawat-pesawat juga sudah banyak mengurangi penerbangan. Kemarin dari Timika ke Jakarta tiba-tiba, Batik, karena penumpang di bawah 50 orang, kan ada pengaruh. Saya di Makassar itu, pesawat ke Surabaya harganya naik sekian persen," kata Komarudin.
"Dan orang kampung sekarang keren. Kecuali zaman batu ya orang kampung tinggal di kampung, tidak pernah ke kota. Sekarang kan tetap ke mana-mana. Jadi tetap pengaruh ke kehidupan rakyat secara keseluruhan," lanjutnya.
Komarudin menilai, anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar harus menjadi perhatian pemerintah agar tetap menjaga stabilitas harga. "Karena kalau harga barang naik, pendapatan rakyatnya tetap segitu, juga pasti akan berdampak," katanya.
BACA JUGA:
Selain itu, Komarudin berharap, Presiden dapat memberi jawaban-jawaban yang memberi harapan pada rakyat. "Rakyat sekarang dan dulu kan beda. Kalau dulu tidak ada informasi di luar informasi pemerintah. Katakanlah orde baru, hanya satu saja informasi, TVRI. Jadi kita tidak ada sumber lain, kalau kita sekarang kan sumber informasi hari ini peristiwa terjadinya jarum jatuh di Eropa, orang Indonesia tahu, orang kampung lebih tau dari saya mungkin. Karena mereka tiap hari dengan media sosial," bebernya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto buka suara mengenai pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang kini telah menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS, terlemahsepanjang sejarah. Meski nilai tukar rupiah anjlok sangat dalam, Prabowo menepis anggapan negatif terkait perekonomian Indonesia yang diramal suram.
"Saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar "Indonesia akancollapse, akanchaos"... Orang rakyat di desa enggak pake dolar kok," kata Prabowosaat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei.