Bagikan:

JAKARTA - Presiden Komisaris HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah diperkirakan akan cenderung melemah pada perdagangan Selasa, 9 September 2025, dengan potensi pergerakan yang lebih fluktuatif.

Ia menyampaikan bahwa meskipun pada hari Senin, 8 September rupiah spot ditutup menguat ke level Rp16.310 per dolar AS berkat sentimen positif dari pelemahan dolar AS secara global, namun munculnya sentimen domestik baru justru memicu kekhawatiran pasar.

"Awalnya, rupiah diuntungkan oleh sentimen global. Data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan telah meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga. Hal ini membuat dolar AS kurang menarik dan mendorong minat investor pada mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah," ujarnya kepada VOI, Selasa, 9 September.

Namun pada sore hari, ia menjelaskan bahwa sentimen domestik mengambil alih dimana kabar mengenai reshuffle kabinet, khususnya isu penggantian Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menyebabkan nilai tukar rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) anjlok tajam dari kisaran Rp16.310 hingga menyentuh Rp16.600 per dolar AS.

Menurutnya penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor asing terhadap meningkatnya ketidakpastian politik dan fiskal di dalam negeri.

Ia menyampaikan terdapat beberapa faktor penggerak rupiah Selasa, 9 September seperti reaksi pasar domestik dimana pasar spot domestik yang tutup sebelum kabar reshuffle diumumkan, diperkirakan akan bereaksi negatif saat pembukaan perdagangan pagi.

Menurutnya pelemahan tajam yang terjadi di pasar offshore kemungkinan besar akan menular ke pasar domestik.

Selanjutnya, ia menambahkan yaitu arus modal asing dimana pergerakan dana asing di pasar obligasi dan saham akan menjadi perhatian utama. Jika investor asing mulai melakukan capital outflow, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat.

Sutopo menyampaikan faktor berikutnya yaitu data ekonomi AS karena data inflasi AS dijadwalkan rilis minggu ini akan tetap menjadi faktor penting.

Menurutnya jika inflasi menunjukkan tren melandai, hal ini bisa mengurangi tekanan terhadap rupiah. Namun, jika inflasi tetap tinggi, rupiah akan menghadapi tekanan ganda, baik dari faktor global maupun domestik.

Sutopo menyampaikan berdasarkan kondisi saat ini, rentang pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa, 9 September diperkirakan berada di antara Rp16.475 per dolar AS hingga Rp16.670 per dolar AS.

"Pergerakan ini bisa sangat liar, jadi perhatikan dengan saksama perkembangan politik dan ekonomi," pungkasnya.

Untuk diketahui mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah pada hari Senin, 8 September, Kurs rupiah spot ditutup menguat 0,75 persen ke level Rp16.310 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup naik 0,55 persen ke level harga Rp16.348 per dolar AS.

Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Purbaya Yudhi Sadewa menjadi Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani, Senin, 8 September.