Etnis Bersenjata KIA Serang Konvoi Truk Tangki Rezim Militer Myanmar

JAKARTA - Kachin Independence Army (KIA) kembali merepotkan rezim tentara Myanmar. Kali ini giliran konvoi truk tangki diserang dengan artileri, karena mengangkut bahan bakar untuk jet tempur milik angkatan udara rezim.

Total ada tujuh truk tanki yang diserang di Union Highway dan Jalan Kutkai-Hseni, Negara Bagian Shan, karena mengangkut bahan bakar dari China melalui Muse.  

Petugas informasi KIA Kolonel Naw Bu mengatakan, kelompok bersenjata itu menyerang lima truk tangki di Union Highway. Sementara dua serangan lainnnya di Jalan Kutkai-Hseni. Serangan dilakukan pada Senin dan Selasa lalu. 

"Orang-orang mengatakan kepada kami bahwa bahan bakar itu bukan untuk penggunaan umum tetapi untuk dewan militer, jadi kami melepaskan tembakan," kata Kolonel Naw Bu, melansir The Irrawaddy, Rabu 19 Mei.

"Tidak ada pertempuran dengan militer di Negara Bagian Shan bagian utara, selain dari serangan-serangan tersebut," lanjutnya.

Rezim militer Myanmar menggunakan jet tempur untuk merebut kembali kendali pangkalan strategis di Bukit Alaw Bum, Kota Momauk, Negara Bagian Kachin yang berbatasan dengan China.

Pos terdepan memungkinkan KIA untuk mengontrol jalan antara ibu kota Negara Bagian Kachin, Myitkyina dan Bhamo, juga di Negara Bagian Kachin. 

Kelompok bersenjata itu juga menyerang pangkalan udara Myitkyina dan Bandara Bhamo dengan artileri, yang dilaporkan memaksa Angkatan Udara Myanmar untuk terbang dari Lashio, Mandalay dan Meiktila di Negara Bagian Shan di Wilayah Mandalay untuk menyerang Momauk.

KIA memiliki alasan untuk percaya bahwa truk tangki menyediakan bahan bakar jet untuk mengebom Momauk, kata Kolonel Naw Bu.

"Mereka menyerang dengan dua jet tempur kemarin di Momauk," ungkapnya. 

Rezim militer Myanmar belum mengomentari serangan tersebut dan belum diketahui nasib pengemudi ketujuh truk tanki tersebut.

“Yang kami tahu adalah dua kapal tanker, satu hari ini dan satu kemarin, terbakar antara Kutkai dan Hseni. Kami tidak keluar saat mendengar tembakan," tutur seorang warga.

Untuk diketahui, National Energy Puma Aviation Services Co Ltd, perusahaan patungan antara Puma Energy Co yang berbasis di Singapura dan Perusahaan Petrokimia Myanmar milik pemerintah, adalah pemasok utama bahan bakar penerbangan di Myanmar. Tetapi, Puma Energy menangguhkan impor setelah kudeta militer pada Februari, mengganggu pasokan.

Sejak saat itu, rezim militer Myanmar dilaporkan memilih untuk mengimpor bahan bakar bagi keperluan penerbangan, utamanya untuk Angkatan Udara dari China.

Kudeta Myanmar. Redaksi VOI terus memantau situasi politik di salah satu negara anggota ASEAN itu. Korban dari warga sipil terus berjatuhan. Pembaca bisa mengikuti berita seputar kudeta militer Myanmar dengan mengetuk tautan ini.