Tunanetra Jadi Lebih Berdaya Dibekali Pelatihan Pijat Profesional
JAKARTA - Penyandang disabilitas netra tak lagi dipandang sebagai kelompok yang terbatas dalam berkarya. Di tengah tantangan yang dihadapi, mereka kini diberdayakan melalui pelatihan keterampilan pijat.
Pelatihan ini bukan hanya membuka peluang kerja, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi. Salah satu inisiatif nyata datang dari Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Sentra Mahatmiya Bali yang secara aktif membekali para tunanetra dengan keterampilan pijat profesional.
Kepala Sentra Mahatmiya Bali, Sumarno Sri Wibowo, menjelaskan bahwa pelatihan berlangsung rata-rata selama empat bulan di Desa Banjar Anyar, Kabupaten Tabanan, Bali. Saat ini, tiga penyandang tunanetra tengah mengikuti program tersebut, dibimbing oleh dua instruktur dari Kemensos.
“Pelatihannya berlangsung sekitar empat bulan. Setelah itu, peserta akan lanjut ke tahap magang sebelum terjun langsung ke dunia kerja,” jelas Sumarno, seperti dikutip ANTARA.
Tahun sebelumnya, delapan orang telah mengikuti pelatihan serupa. Usai pelatihan, sebagian dari mereka berhasil terserap ke industri perhotelan, bahkan ada yang berani membuka usaha sendiri. Setiap peserta juga memperoleh sertifikat resmi dari Kemensos sebagai bukti keahlian yang diakui secara profesional.
“Ada satu alumni kami yang sekarang bekerja di sebuah hotel di Kabupaten Badung, dengan tarif mencapai satu juta rupiah per jam,” ungkap Sumarno.
Baca juga:
- Kemandirian Tunanetra Bisa Ditingkatkan dengan Penerapan Hasil Penelitian yang Inklusif
- Kolaborasi Microsoft dan Be My Eyes Tingkatkan Inklusivitas AI untuk Tuna Netra
- Lionel Messi Bagikan Teknologi Inovatif OrCam MyEye ke Domingos, Mahasiswa Tunanetra Brasil
- LEGO Luncurkan Balok Mainan Braille dalam Bahasa Inggris dan Prancis
Sementara itu, Yudi Hamzah Hermawan, salah satu instruktur, menyebutkan bahwa materi pelatihan difokuskan pada pijat kebugaran. Peserta diajarkan mengenali titik-titik tertentu pada tubuh dan langsung mempraktikkan teknik pemijatan tersebut.
“Durasi pelatihan bisa disesuaikan. Kalau peserta cepat menguasai, maka mereka bisa langsung lanjut magang. Dan semuanya tanpa biaya,” jelas Yudi.
Komang Arta, peserta asal Buleleng, membagikan pengalamannya. Ia telah mengikuti pelatihan selama hampir empat bulan, setelah dirujuk oleh Dinas Sosial setempat. Komang, yang mengalami kehilangan penglihatan total sejak 2018 akibat faktor genetik, mengaku pelatihan ini sangat membantunya.
“Pelatihan dari Senin sampai Kamis, disediakan juga asrama dan makan. Sangat membantu,” kata Komang yang sebelumnya sempat bekerja di bidang pemasaran.
Saat ini, Sentra Mahatmiya di Tabanan melatih total 13 peserta, mencakup berbagai keterampilan seperti pijat, komputer, barista, dan menjahit. Peserta tak hanya berasal dari kalangan tunanetra, tetapi juga mencakup anak-anak berhadapan dengan hukum, keluarga penyintas terorisme, lansia, ODHA, penyintas narkotika, hingga penyandang gangguan kejiwaan.