Fase yang Dilalui Tubuh saat Berpuasa dan Manfaatnya

YOGYAKARTA - Ketika seseorang menjalankan ibadah puasa, tubuh akan mengalami fase-fase biologis yang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Mulai dari detoksitifkasi hingga pemulihan, simak beberapa fase yang dilalui tubuh saat berpuasa di bawah ini.

Selain memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan fungsi organ, puasa selama satu hari juga dapat meningkatkan sistem imun.

Proses detoksifikasi yang terjadi selama puasa akan membantu tubuh membersihkan racun dan menambah kesehatan secara signifikan.

Selain itu, puasa juga terbukti memberikan manfaat untuk mengurangi peradangan, menambah sensitivitas insulin, dan meningkatkan kesehatan jantung.

Untuk jangka panjang, rutin berpuasa akan membawa banyak manfaat baik untuk kesehatan tubuh.

Manfaat-manfaat tersebut juga dapat diraih dengan fase-fase tubuh saat dihadapkan dengan kondisi puasa, fase-fase tersebut antara lain:

Fase yang Dilalui Tubuh saat Berpuasa

Fase awal puasa (0-4 jam)

Dalam fase awal puasa yang berlangsung selama 0 hingga 4 jam setelah makan terakhir, tubuh mulai mengalami perubahan signifikan.

Kadar glukosa darah mulai meningkat akibat proses pencernaan dan penyerapan makanan yang dikonsumsi sebelumnya.

Sebagai respons terhadap peningkatan kadar glukosa, pankreas memproduksi insulin yang bekerja untuk mengatur gula darah, memberikan energi stabil bagi sel-sel tubuh.

Dalam periode ini, ada perubahan dalam hormon-hormon yang berhubungan dengan nafsu makan.

Hormon grelin, yang juga disebut sebagai hormon lapar, cenderung menurun dalam waktu 1-2 jam setelah makan.

Sementara itu, kadar leptin, hormon yang memberi sinyal kenyang, mulai meningkat. Proses ini akan membantu menjaga tingkat energi yang stabil antara waktu makan dan menghadirkan rasa kenyang sehingga individu tidak merasakan lapar secara berlebihan.

Fase katabolik (4-16 jam)

Setelah melalui fase awal, tubuh akan memasuki fase katabolik yang berlangsung antara 4 hingga 16 jam puasa.

Pada tahap ini, tubuh mulai memanfaatkan semua nutrisi yang disimpan sebagai energi. Glikogen yang tersimpan dalam hati dan otot akan dipecah dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi.

Seiring dengan berkurangnya penyimpanan glikogen, tubuh beralih ke penggunaan lemak sebagai sumber energi.

Proses ini membuat pembakaran lemak sebagai keuntungan penting saat berpuasa. Namun, lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai fase pembakaran lemak ini bergantung pada asupan makanan sebelumnya.

Semakin tinggi konsumsi karbohidrat, maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk membakar simpanan tersebut.

Oleh sebab itu, orang yang menjalani puasa harus memperhatikan makronutrien yang dikonsumsi dalam makanan sehari-hari mereka.

Pembakaran lemak (16-24 jam)

Setelah tubuh berpuasa selama 16 jam, akan terjadi peningkatan produksi keton yang signifikan.

Keton diproduksi sebagai hasil pembakaran lemak, dan menjadikannya sumber energi alternatif.

Dalam kondisi normal, konsentrasi keton dalam plasma yaitu antara 0,05 hingga 0,1 mM, tetapi saat berpuasa atau mengurangi karbohidrat dalam diet, konsentrasi ini akan meningkat hingga 5-7 mM.

Aktivitas fisik ringan, misalnya berjalan atau bersepeda, dapat mempercepat proses produksi keton ini.

Pengurangan berat badan dan penurunan risiko beberapa penyakit, misalnya diabetes dan penyakit jantung, dapat terjadi dalam fase ini.

Selama proses tersebut, tubuh yang beradaptasi menggunakan lemak sebagai sumber energi, manfaat jangka panjang bagi kesehatan mulai terlihat.

Proses autofagi (24-48 jam)

Setelah 24 jam berpuasa, tubuh akan memasuki proses autofagi, sel-sel akan mendaur ulang komponen lama dan memecah protein-protein yang rusak atau salah lipat.

Proses ini sangat penting untuk proses peremajaan sel dan jaringan, membantu menghilangkan komponen seluler yang tidak berfungsi dengan baik.

Selain itu, autofagi memiliki peran penting dalam mencegah penyakit neurodegeneratif yang berhubungan dengan penuaan.

Dalam fase ini, kadar insulin mulai menurun, dan tubuh dipaksa untuk memanfaatkan sumber energi alternatif.

Ketika simpanan glukosa habis, tubuh memfokuskan energi pada perbaikan dan regenerasi sel karena mengaktifkan mekanisme autofagi.

Oleh sebab itu, manfaat kesehatan dari puasa jangka menengah ini menjadi sangat bersifat terapeutik.

Ini yang terjadi jika puasa lebih dari 48 jam

Dalam diet yang menggunakan metode puasa, misalnya intermittent fasting, tidak makan selama lebih dari 48 jam menjadi salah satu diet yang dapat dilakukan.

Puasa yang diteruskan lebih dari 48 jam disebut sebagai puasa jangka panjang. Dalam fase ini, kadar insulin terus menurun, sementara konsentrasi keton bertambah sebagai sumber energi utama bagi tubuh.

Penggunaan lemak sebagai sumber energi menjadikan tubuh mampu memelihara massa otot sambil membakar lemak secara efisien.

Studi menyimpulkan bahwa puasa berkepanjangan dapat memberikan dampak positif pada kesehatan, yaitu menurunkan kadar gula darah dan tekanan darah, serta mengurangi lemak perut.

Namun, puasa jangka panjang juga harus dilakukan dengan pengawasan medis, sebab bagi individu tertentu dapat mengundang risiko.

Penting bagi setiap orang untuk memahami bahwa manfaat kesehatan yang didapatkan dari puasa berkepanjangan tidak bisa disamakan dengan puasa sehari-hari.

Demikianlah penjelasan mengenai fase yang dilalui tubuh saat berpuasa. Semoga bermanfaat! Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.