Negara Terima Triliunan Rupiah dari Sektor Perizinan Sawit hingga Mineral Berkat Stranas PK
JAKARTA - Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) disebut menyetorkan Rp3 triliun ke negara. Capaian ini didapat dari upaya pengendalian perizinan sawit dan tambang di kawasan hutan di lima provinsi hingga berbagai sistem yang telah dibangun untuk menutup celah korupsi.
Hal ini disampaikan Ketua KPK Nawawi Pomolango saat membuka Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2024, Senin, 8 Desember. Nawawi awalnya menjelaskan gerakan Stranas PK dimotori oleh lima kementerian/lembaga.
"Stranas PK merupakan aksi pencegahan yang mengoordinasikan 117 kementerian dan lembaga serta lebih 500 pemerintah daerah," kata Nawawi dalam sambutannya.
"Pelaksanaan Stranas PK dimotori oleh lima kementerian/lembaga atau yang disebut sebagai tim nasional dengan KPK sebagai koordinator," sambungnya.
Nawawi kemudian menjelaskan sejumlah capaian Stranas PK.
"Di antaranya Rp3 triliun penerimaan negara dengan potensi penerimaan negara Rp30,2 triliun atas pengenaan denda untuk pengendalian perizinan sawit dan tambang di kawasan hutan lima provinsi," tegasnya.
Selain itu, capaian lainnya adalah terjadinya perbaikan tata kelola perizinan di sektor perkebunan dan mineral batu bara hingga digitalisasi sekitar 2.000 pelabuhan dan terminal khusus.
Digitalisasi tersebut, sambung Nawawi, telah menurunkan biaya logistik nasional dari 24 persen menjadi 14 persen dari gross domestic product atau nilai total barang dan jasa yang diproduksi suatu negara dalam periode tertentu.
Kemudian, layanan yang biasanya memakan waktu dua minggu sekarang menjadi kurang dari sehari.
"Hal inilah yang menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya negara di Asia yang masuk dalam 20 besar negara dengan performance pelabuhan terbaik di dunia versi UNCTAD," ungkap Nawawi.
Baca juga:
Selanjutnya, Nawawi juga memaparkan perbaikan sektor mineral telah membuat negara menikmati tambahan penerimaan sebesar Rp7,7 triliun. Lalu, Stranas PK juga berhasil mencegah kebocoran dalam pengadaan barang dan jasa dengan menekan penggelembungan harga atau mark-up harga di sektor konstruksi hingga 20 persen.
Terakhir, disebutkan Stranas PK juga telah berhasil menutup celah korupsi kebocoran subsidi listrik dan LPG 3 kilogram. Disinyalir taksirannya bisa mencapai puluhan triliun rupiah.
"Untuk mencegah korupsi dalam pemberian subsidi bagi penduduk miskin, penggunaan nomor induk kependudukan (NIK) yang didorong Stranas PK mampu mengidentifikasi kebocoran sebesar Rp14 triliun setahun untuk subsidi listrik dan ketidaktepatan sasaran subsidi LPG 3 kilogram sebesar Rp50 triliun," pungkas Nawawi.