Rocky Gerung: Penentuan Cawapres Bukan Lagi Soal Pride tapi Soal Price

JAKARTA - Setelah PDIP menentukan Ganjar Pranowo sebagai Calon Presiden, yang dinantikan berikutnya siapa yang akan menjadi bakal calon wakil presiden untuk Ganjar. Hal yang sama juga dinantikan untuk Prabowo serta Anies Baswedan. Menurut pengamat politik Rocky Gerung, penentukan cawapres saat ini bukan lagi soal pride tapi soal price.

Sejumlah nama sudah disebut oleh Puan Maharani di ajang Rapimnas III PDIP. Ada Sandiaga Uno, Mahfud MD, Erick Thohir dan Airlangga Hartarto. Pertanyaannya siapa yang benar-benar akan didapuk mendampingi Ganjar Pranowo untuk bertarung di pilpres 2024? Itu yang belum bisa diungkap saat ini.

Menurut analisis Rocky Gerung situasi sekarang ini akan bersifat pragmatis. Yang bisa memberikan ongkos untuk kampanye dan kerja-kerja politik lainnya akan digandeng menjadi calon wakil presiden.

"Jadi pencalonan wakil presiden sekarang ini tergantung pada price, soal harga. Hal-hal yang sifatnya kalkulasi elektoral bisa dibatalkan oleh kalkulasi amplop. Tergantung berapa besar jumlah amplopnya. Jadi sekarang ini tergantung pada price bukan pride," tegasnya saat  datang ke kantor VOI.id, Tanah Abang III  Jakarta Pusat, Kamis 8 Juni.

Tak Ada yang Dominan

Rocky Gerung. (Foto Edy VOI)

Di antara calon-calon presiden yang muncul saat ini: Ganjar Pranowo, Prabowo dan juga Anies Baswedan menurut Rocky tak ada satu pun yang dominan, karena itu membutuhkan pasangan yang bisa membantu menambah suara di kancah pilpres nanti.

"Suara yang banyak di perembutkan itu dari kalangan NU. Karena itulah dicari para cawapres yang merepresentasikan kalangan nahdliyin. Berbeda sekali dengan saat SBY maju untuk periode kedua. Karena elektabilitasnya sudah di atas 35 persen, dia tak peduli lagi dengan siapa pun yang mendampinginya. Akhirnya diambillah Budiono yang orang enggak banyak kenal dia. Saat pilpres pasangan SBY-Budiono jadi pemenang juga," katanya membandingkan.

Sekarang ini nama-nama yang akan masuk bursa capres dan cawapres berlomba masuk ke kantong NU. "Lihat saja Erick Thohir masuk ke kalangan NU. Sandiaga Uno juga begitu. Prabowo pun masuk ke arena yang sama. Karena NU itu dianggap penting, pemilu kita seperti kurang plural kalau NU tidak diajak," katanya.

Pertanyaannya, lanjut Rocky siapa yang akan mewakili komunitas NU? "Inilah yang masih ditunggu-tunggu," katanya. "Sandiaga Uno menurut saya tidak bisa dikatakan mewakili NU. Dia lebih tepat mewakili kalangan kapitalis," lanjutnya.

Pertimbangan Ganjar dan PDIP kalau mereka akhirnya menerima Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden menurut pria yang biasa disapa RG ini karena kemampuan finansialnya. "Soal wapres ini ditentukan oleh kemampuan calon wapres untuk membiayai kampanye pemilu. Jadi bukan karena kesamaan idiologi," katanya.

Namun soal isu kalau Sandi diminta menarik gerbong PKS di pemilu 2024 nanti Rocky tidak yakin itu akan terwujud. "Bagaimana mungkin PKS yang mengusung konsep Islam dalam perilakunya akan bergabung dengan PDIP yang berhaluan sekuler. Itu akan sulit sekali terjadi. PKS lebih memilih bank syariah sementara PDIP bank konvensional," katanya.

"Jadi akhirnya untuk kursi wapres itu jatuh pada pilihan pragmatis, bukan pilihan idiologis," tegasnya.

Dalam urusan ini, lanjut Rocky, Prabowo lebih percaya diri. "Dia tak perlu lagi mencari threshold, siapa pun calon wakil presidennya tinggal nambahin beberapa persen saja. Gerindra kan punya kader, ya kadernya Prabowo sendiri. Berbeda dengan PDIP yang tak punya kader yang bisa diusung," kata Rocky Gerung.