Sejarah Hari Ini, 1 Desember 1911: Sekolah Muhammadiyah Pertama Didirikan K.H. Ahmad Dahlan

JAKARTA – Sejarah hari ini, 111 tahun yang lalu, 1 Desember 1911, K.H. Ahmad Dahlan membangun Sekolah Muhammadiyah yang pertama. Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI), namanya. Pembangunan itu bukan tanpa alasan. Ia ingin menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk melawan kebodohan dan penjajahan.

Tokoh berjuluk Sang Pencerah itu ingin pendidikan agama dapat bersanding dengan ilmu pengetahuan umum lain. Sebelumnya, pria yang memiliki nama kecil Muhammad Darwis itu memiliki ketertarikan luas terhadap ilmu agama. Ia pun mencari ilmu hingga ke tanah suci, Makkah.

Ketertarikan Ahmad Dahlan (kelak dikenang sebagai pendiri Muhammadiyah) terhadap ilmu agama telah tertanam semenjak kecil. Keluarganya, utamanya ayahnya adalah seorang ulama besar di Yogyakarta. Saban hari ayahnya kerap mengajarkan Ahmad Dahlan ilmu agama.

Belakangan ketertarikannya dengan ilmu agama bertumbuh. Ia selalu haus ilmu pengetahuan. Opsi satu-satunya kala itu adalah dengan melanggengkan ibadah haji ke Makkah. Baginya, Makkah adalah gudangnya ilmu agama. Apalagi Ahmad Dahlan berencana takkan pulang cepat. Ia ingin menetap sementara waktu.

Ia pun naik haji dua kali (1890-1902). Pengalamannya di Makkah tak disia-siakan. Nyatanya, Ahmad Dahlan tak melulu belajar agama. Ia juga menambah khazanah pikiran dengan mendalami ilmu pengetahuan lainnya. Pikirannya pun terbuka.

Kweekschool atau Sekolah Guru Muhammadiyah yang didirikan di Yogyakarta pada 1923 demi memenuhi kebutuhan guru untuk sekolah-sekolah yang berada di bawah pengelolaan lembaga MUhammadiyah. (Dikdasmen PP Muhammadiyah)

Pendidikan adalah jawaban kaum bumiputra keluar dari kebodohan dan penjajahan. Ia pun pulang kampung dalam keadaan cukup ilmu. Hasratnya untuk mengajar cukup tinggi. Pun ia langsung mengabdikan dirinya sebagai pendidik sembari menyebar luaskan pelajaran agama.

“Pada 1906, KH. Ahmad Dahlan kembali ke Yogyakarta dan menjadi guru agama di Kauman. Selain itu, dia juga mengajar di Kweekschool di Yogyakarta dan Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) sebuah sekolah untuk calon pegawai negeri bumiputra di Magelang.”

“Pihak keraton Yogyakarta juga mengangkat KH. Ahmad Dahlan sebagai khatib tetap di Masjid Agung. K.H. Ahmad Dahlan merupakan salah seorang tokoh Islam yang sangat giat memperjuangkan kemajuan umat Islam melalui bidang pendidikan,” ungkap Fahrul Rahman dan kawan-kawan dalam buku Pendidikan Islam Bidang Akhlak K.H. Ahmad Dahlan (2022).

Pengalamannya mengajar itulah membuat Ahmad Dahlan ingin melihat umat Islam maju. Ia menyaksikan sendiri bagaimana ilmu agama begitu dominan diajarkan di masjid-masjid. Sedang ilmu lainnya tak dibahas sama sekali.

Ia pun mencoba mendobrak kebiasaan itu. Ia ingin membangun suatu wadah supaya kaum Muslim mempunyai tempat untuk belajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya. Namun, Ahmad Dahlan tak memilih masjid sebagai pusat pengajaran.

Ia pun membentuk sebuah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) lengkap dengan papan tulis dan meja pada 1 Desember 1911. Atau setahun sebelum organisasi Muhamamdiyah berdiri.

Wujud Sekolah Muhammadiyah pertama. (Buku Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Persyarikatan Muhammadiyah)

Sekolah itu kemudian dikenang luas sebagai Sekolah Muhammadiyah yang pertama. Namun, bangunan itu tak lagi digunakan semenjak Muhammadiyah mulai mendirikan banyak sekolah modern di penjuru Nusantara. 

“Kepada murid-muridnya K.H. Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan pelajaran agama. Pada waktu itu pengajian agama Islam hanya mempelajari pengetahuan agama. Tetapi, di Sekolah Muhammadiyah, di samping pendidikan agama juga diajarkan huruf latin dan ilmu-ilmu umum, seperti berhitung, ilmu bumi, ilmu tubuh manusia, dan sebagainya.”

“Pendek kata, sekolah K.H. Ahmad Dahlan itu menyerupai sekolah-sekolah umum yang didirikan oleh pemerintah. Waktu mula-mula muridnya baru sedikit. Hanya beberapa kelas dan terdiri dari anak-anak dan pemuda-pemuda di kampung. tetapi, K.H. Ahmad Dahlan membimbing mereka dengan teliti dan sungguh-sungguh,” ungkap Sutrisno Kutoyo dalam buku Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Persarikatan Muhammadiyah (2011).