Memori Grup Bagito Melawak di Hadapan Presiden Soeharto dan Ibu Tien

JAKARTA - Siti Hartinah atau yang akrab disapa Ibu Tien gemar menonton acara lawak. Presiden Soeharto apalagi. Mereka kerap mengundang pelawak untuk acara resmi kenegaraan. Pada perayaan hari Ibu 1995, misalnya. Ibu Tien secara khusus meminta grup lawak Bagito yang mengisi acara hiburan. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Miing, Unang, dan Didin. Ketiganya unjuk kebolehan. Bahkan, humor yang dibawakan terselubung kritik sosial. Nyatanya, baik Ibu Tien dan Soeharto sama-sama menyukai humor Bagito.

Tiada yang meragukan eksistensi medium radio mengangkat nama pelawak tanah air. Banyak di antara nama-nama besar dunia lawak hadir dari acara radio. Warkop DKI dan Bagito adalah beberapa di antaranya. Warkop di Radio Prambors dan Bagito di Radio Suara Kejayaan (SK).

Kehadiran keduanya tentu membawa warna segar bagi industri hiburan tanah air. Mereka bukan saja sekedar membawa pendengarnya menikmati tawa tiada henti, tapi juga mengajak pula mereka untuk merenungi kritik sosial. Utamanya yang terselubung dalam sebuah set lawakan. Namun, melawak bukanlah perkara mudah. Riset yang mendalam jadi ajian tiap grup lawak yang kerap menjadikan sosial-politik sebagai tema besar.

Miing (Dedi Gumelar), Didin (Didin Pinasti), dan Unang (Hadi Wibowo) pernah merasakannya. Mereka tak langsung jadi bintang di layar kaca. Sebab, mereka terlebih dahulu merintis karier sebagai pengisi program Konsultan Bingung pada tahun 1984 di Radio SK. Sebuah radio yang acap kali dipelesetkan sebagai Senyum dan Ketawa.

Miing dan Didin dari Grup Lawak Bagito. (Tangkapan Layar Bagito Show)

Dalam acara Konsultan Bingung, Bagito sering kali melemparkan kritikan berbalut humor. Kritikan itu erat dengan narasi perlawanan dari kebijakan Orde Baru yang terkenal represif. Pendengar SK yang kerap disapa SKawan menyukainya. Tapi tidak oleh empunya kekuasaan. Bagito dilabeli sebagai pelawak dengan materi yang berbahaya bagi eksistensi Orba.

“Cukup banyak artis-artis ngetop saat ini yang mengawali karirnya dari dunia radio. Salah satu contohnya adalah pelawak legendaris Dono, Kasino, Indro yang tergabung dalam Warkop DKI. mereka mengawali karirnya dengan menjadi penyiar di Radio Prambors. kemudian Bagito yang anggotanya adalah Miing, Didin dan Unang.”

“Mereka juga sempat menjadi penyiar-penyiar top di radio SK dulu singkatan dari Senyum dan Ketawa. Juga artis-artis top lainnya seperti Farhan, Indie Barends, Ringgo dari radio Oz, Ramond F Sungkar yang pernah siaran di radio Istara FM, bahkan Sogi Extravaganza dari Radio Oz,” ungkap Linda Budiarti dalam buku Asyiknya Jadi Penyiar Radio (2021).

Sedang di Puncak Karier

Puncak kejayaan dalam dunia komedi diraih oleh Bagito pada era 1990-an. Era itu Bagito sedang tenar-tenarnya. Tiada yang tak mengenal acara lawak Bagito yang mulanya muncul di Radio SK, kemudian Bagito Show yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta, RCTI.

Karier yang menanjak itu membuat Bagito memiliki banyak penggemar. Dari kalangan jelata hingga kelas atas. Ibu Tien yang notabene istri orang nomor satu di Indonesia, misalnya. sejak awal Ibu Tien sudah kepincut aksi lawan Miing, Didin, dan Unang. Ia pun berharap dapat menyaksikan secara langsung Bagito melawak.

Pucuk dicinta ulam tiba. Ibu Tien menyerukan permintaan khusus kepada panitia acara Hari Ibu pada 22 Desember 1995. Sejatinya acara Hari Ibu itu yang dilaksanakan di Balai Sidang (atau yang lebih dikenal: Jakarta Convention Center) telah dipersiapkan matang. Tari dan pembacaan puisi jadi ajian.

Namun, Ibu Tien meminta tambahan satu hiburan. Ia ingin melihat aksi satu grup lawak. Bagito, namanya. Ibu Tien telah kandung kepincut dengan aksi lawak ketiganya. Pun Ibu Tien sendiri memahami bahwa lawakan dari Bagito sering membalut kritikan ke dalam humor. Ibu Tien tak mempermasalahkan.

“Besoknya ketemu Didin sama Unang. Di mana-mana dapat order biasanya girang. Lu aja deh, kata Unang. Ini belum lanjut ceritanya. Kayaknya di depan presiden ngomong apa? Emang bisa dibercandaiin Pak Harto. Becanda cengengesan, pulang-pulang ke Guntur loh. Kan takut kita. Padahal, Bagito lagi top-topnya itu. 1995 lagi top-topnya lagi.”

“Rupanya saya tanya ke istri Gubernur DKI Jakarta, Soerjadi Soedirdja waktu itu. Juga ke istri Menteri Dalam Negeri, Yogie S. Memet. Keduanya ketua panitia dipanggil oleh Ibu Tien melaporkan acaranya apa, Hari Ibu hiburannya selain pidato presiden. Pertama, tari-tarian dari taman mini. Kedua, pembacaan puisi dari Syifa Fauzia anak dari Tuty Alawiyah dari As-Syafi’yah. Ketiga, lawak oleh Bagito. Kenapa bagito? Itu Ibu Tien ngomongnya gitu, aku mau nonton itu dong lawak yang anak muda tiga orang di RCTI aku suka. Kata istri gubernur, oke Bu saya kenal mereka,” ungkap Miing di Youtube Denny Cagur TV, 20 November 2020.

Grup Lawak Bagito: Didin Pinasti (Didin), Dedi Gumelar (Miing), dan Hadi Wibowo (Unang). (Wikimedia Commons)

Kehadiran Bagito sempat ditolak oleh Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg). Sebab, Bagito dikenal sebagai grup yang kerap melemparkan kritik kepada pemerintah Orba. Alias, eksistensi Orba dapat dikuliti langsung oleh Bagito di acara Hari Ibu. Apalagi, aksi itu akan ditonton langsung oleh Soeharto dan Ibu Tien.

Kehadiran Bagito dibatalkan. Namun, Ibu Tien membela. Ibu Tien bersikukuh Bagito harus tampil. Seperti yang sudah ditebak-tebak Bagito diperbolehkan melawak. Namun, protokoler Istana segera membatasi rangkaian materi yang akan dibawakan Bagito.

Miing, Didin, dan Unang sempat ketakutan. Aksi lawak itu benar-benar menguras pikiran. Lagi pula, banyak di antara pelawak terdahulu yang tampil di muka Soeharto dan Ibu Tien tak dapat memperlihatkan performa terbaiknya.

Bagito pun segara ambil keputusan. Mereka kemudian memilih tampil apa adanya di puncak acara. Kritik berbalut humor jadi ajiannya. Nyatanya, penonton menyukai aksi lawakan Bagito. Seisi gedung pun dipenuhi tawa. Pun wajah Soeharto dan Ibu Tien tampak terhibur oleh lawakan Bagito. Alias lawakan bagito berhasil membuat 4 ribu orang di Balai Sidang terhibur.

“Apa yang terjadi, kita pada saat keluar dari situ, masuk ke ruang rias ganti baju. Pak Wahono (Ketua MPR), Pak Gofur (Anggota DPR), dan beberapa menteri nyamperin. Selamat ya dek, selamat ya dek, bukan selamat is congratulation, bukan selamat sukses, tapi selamat kagak celaka lo.”

“Pak Harto senyum ga apa-apa. Lagian kebangetan masa ketangkap presiden gara-gara itu ya. Benar loh, karena kita berhadapan dengan rezim saat itu. kalau sekarang kan, kalau kita ngeritik pemerintah dengan buzzer urusannya, dengan netizen maha benar,” tutup Miing.