Elon Musk Kerjakan Proyek Roket Angkut Logistik Militer

JAKARTA - CEO SpaceX Elon Musk kembali mendapatkan kesepakatan. Bersama militer Amerika Serikat (AS), Musk akan membuat roket yang mampu mengirimkan senjata ke seluruh dunia dalam waktu satu jam.

Dilansir laman Slashgear, Senin 12 Oktober, tidak hanya senjata, dalam roket tersebut juga bisa terisi muatan lainnya yang menjadi perbekalan saat perang. Nantinya roket dapat meluncur dengan kecepatan 7500 mil per jam dan mampu membawa 80 metrik ton kargo ke orbit. 

Berdasarkan kontrak yang disepakati, SpaceX akan bekerja sama dengan perusahaan kontraktor militer lainnya, termasuk Exploration Architecture Corporation juga berpartisipasi dalam pengembangan roket ini. 

Kepala Komando Transportasi AS, Jenderal Stephen Lyons menyambut baik proyek roket kargo ini yang akan mulai direalisasikan pada 2021 mendatang. Nantinya militer AS memungkinkan mengirim kargo dalam muatan besar dalam waktu yang lebih singkat. 

Sebagai perbandingan, adapun pesawat angkut Globemaster C-17 memiliki kecepatan maksimum 590mph, namun membutuhkan waktu 15 jam untuk melakukan perjalanan yang sama. Nantinya, roket buatan SpaceX dan militer AS itu memiliki tujuan serupa dengan muatan yang setara C-17 dalam waktu singkat.

"SpaceX bergerak sangat, sangat cepat di area ini. Pikirkan tentang memindahkan setara dengan muatan C-17 ke mana saja di dunia dalam waktu kurang dari satu jam," ujar Lyons.

Musk mencatat kalau roket pengangkut senjata ini harus lebih kuat dari Falcon 9, yang hanya dapat membawa 22 metrik ton kargo.

Minggu ini diklaim sebagai keberuntungan untuk SpaceX, sebab beberapa hari yang lalu, perusahaan mendapatkan kontrak senilai 149 juta dolar AS yang mana mereka akan membangun satelit pelacak rudal untuk Pentagon.

Dari kesepakatan itu, SpaceX akan membangun empat satelit yang dilengkapi dengan sensor pelacak rudal infra merah sudut lebar di pabrik perakitannya di Washington, tempat perusahaan tersebut membangun satelit untuk proyek internet Starlink.