Mengenal Interaksi dan Hubungan Parasosial, Jalin Keterikatan Lewat Media Sosial Apakah Sehat?
Ilustrasi interaksi dan hubungan parasosial (Freepik)

Bagikan:

YOGYAKARTA – Hubungan parasosial adalah hubungan yang dilakukan pengguna media sosial dengan persona atau akun idolanya. Seperti para fans dengan selebritas, karakter fiksi animasi, influencer, acara televisi, film, dan tokoh lainnya.

Dalam jurnal psikiatri, pertama kali parasocial relationship dibahas oleh Donald Horton dan R. Richard Wohl pada 1956 dalam Mass Communication and Para-Social Interaction: Observations on Intimacy at a Distance. Konsep hubungan parasosial ini dikaitkan dengan pola interaksi dalam ruang yang sama, disebut parasosial.

Interaksi parasosial didefinisikan sebagai percakapan memberi dan menerima antara pengguna media dan persona media. Hubungan parasosial mungkin tidak melampaui hubungan dalam kehidupan nyata. Tetapi interaksi parasosial terjadi secara eksklusif saat seseorang berinteraksi melalui media sosial dan secara psikologis menyerupai interaksi tatap muka pada kehidupan nyata. Meskipun hubungan parasosial dan interaksi parasosial berkaitan, tetapi keduanya merupakan konsep yang berbeda, dilansir VerywellMind, Jumat, 16 Februari.

interaksi dan hubungan parasosial membangun keterikatan lewat media sosial
Ilustrasi interaksi dan hubungan parasosial (Freepik/rawpixel.com)

Konsep relasi atau koneksi parasosial telah diperluas oleh psikolog media Gayle Stever hingga mencakup keterikatan parasosial. Berdasarkan teori keterikatan oleh Bowlby, keterikatan parasosial terjadi ketika persona media menjadi sumber kenyamanan, rasa aman, dan tempat berlindung yang aman. Seperti interaksi dan hubungan parasosial, keterikatan parasosial berfungsi serupa dengan keterikatan dalam kehidupan nyata dan, oleh karena itu, komponen penting dari keterikatan parasosial adalah pencarian kedekatan.

Lantas apakah hubungan parasosial berdampak buruk dalam kehidupan sehari-hari? Hubungan ini dapat berdampak dalam beberapa cara yang mungkin bersifat negatif. Dalam penelitian, menemukan bahwa memiliki hubungan parasosial dengan tokoh media dapat memengaruhi pandangan politik, keputusan pemungutan suara, perilaku konsumtif, sikap tentang stereotip gender, dan percaya pada berbagai kelompok orang misalnya ilmuwan. Pengaruh ini bisa positif atau negatif, tergantung apakah hubungan ini positif atau negatif.

Terkadang, hubungan parasosial memiliki manfaat. Di antaranya seperti meningkatnya rasa memiliki, rasa percaya diri, keyakinan terhadap efikasi diri, dan perasaan memiliki lebih kuat. Dampak positif lainnya, seperti mengurangi kesepian dan hubungan sosial lebih kuat.

Mudahnya, persona seseorang bisa memberikan kesan tertentu sehingga menyebabkan seseorang memikirkan dirinya di luar interaksi. Interaksi parasosial sendiri, mengarah pada hubungan parasosial. Kalau hubungan parasosial diperkuat interaksi parasosial lebih lanjut, mengarah pada keterikatan parasosial.

Karena menjalin relasi lewat media cenderung satu arah, apalagi antara fans dan idolanya, maka batasan penting jadi pegangan. Termasuk nilai-nilai etis dalam menyematkan komentar dalam potret yang diunggah seorang idola. Sehat atau tidaknya hubungan parasosial, tergantung bagaimana seseorang berinteraksi dengan idolanya dan batas sadar beda antara relasi di media sosial dengan kehidupan nyata.