Masalah Papan untuk Generasi Masa Depan
Ilustrasi foto (Ilham Amin/VOI)

Bagikan:

Sandang, pangan, papan. Ketiganya adalah kebutuhan utama dalam hidup manusia. Khusus satu yang terakhir telah jadi barang yang mahalnya sulit dijangkau. Bahkan, bagi generasi muda, mimpi punya rumah jadi hal yang makin mustahil. Kembali dalam Tulisan Seri khas VOI. Dalam edisi ini kita akan membahas mimpi memiliki rumah dan segala masalah yang menaunginya. Ini dia, "Kapan Mapan Papan?"

 

Tahun yang dinanti-nanti Sonya (28) pun tiba. Dalam hitungan bulan, karyawan swasta yang tergolong generasi milenial itu bakal duduk di pelaminan. Demi mengikat janji suci dengan sang kekasih, Sonya rela menunda salah satu hajat yang sudah lama ia inginkan: membeli hunian. Maklum, biaya nikah tidak murah.

Kendati begitu, hasrat untuk memenuhi kebutuhan papan tak pernah tenggelam. Jika mungkin, di samping mempersiapkan pernikahan, Sonya tetap ingin menyusun langkah merealisasikan angannya untuk beli rumah. Sama seperti kebanyakan orang yang berdomisili di Jakarta, Sonya juga mengidam-idamkan punya rumah di Ibu Kota. Namun, ia sadar, merealisasikannya bukan perkara mudah.

"Masih nabung buat nikah, belum bisa nabung buat beli rumah. Mungkin tahun depan kali, ya ... Penginnya, sih (beli rumah) yang di Jakarta. Tapi, harganya mahal. Jadi, paling nyari-nyari yang KPR (Kredit Pemilikan Rumah)," kata Sonya kepada VOI, Kamis, 30 Januari.

KPR memang jadi solusi jitu mengejar cita-cita memiliki rumah yang harganya mencapai ratusan hingga miliaran itu. Tanpa KPR, keinginan itu bisa jadi sekadar mimpi di siang bolong. Namun, sayangnya tidak semua orang bisa lolos KPR. Perlu catatan keuangan yang baik dan pendapatan yang memenuhi standar harga rumah yang diajukan lewat skema KPR, pastinya. Sonya sadar, butuh kesiapan lahir batin untuk menempuh jalur KPR.

"Pastilah (berat). Karena, pertama persyaratan administrasinya, kedua bunganya kegedean. Dan terakhir, kebutuhan primer kadang lebih menggoda," katanya.

Sonya bukan satu-satunya kaum muda yang kesulitan beli rumah. Hafiz (24), salah seorang karyawan perusahaan fesyen di Jakarta juga mengisahkan kesulitannya pada kami. Di mata Hafiz, membeli rumah secara tunai adalah hal mustahil. Apalagi Hafiz bersikeras membeli rumah yang tak jauh dari keluarga dan tempat kerjanya di Jakarta.

Karenanya, saat ini Hafiz tengah memelajari skema-skema KPR di berbagai lembaga perbankan. "Harga (rumah) cluster mahal. Di Jakarta, ukuran yang paling kecil itu rata-rata di atas Rp600 juta. Kebanyakan di atas Rp1 miliar ... Lebih prefer di daerah perumahan. Sudah bosan main di kampung," katanya, dihubungi VOI.

Daya jangkau

Kami memahami problema yang dihadapi Sonya maupun Hafiz. Data Profil Generasi Milenial Indonesia tahun 2018 yang dibuat Badan Pusat Statistik (BPS) atau pun data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) tahun 2017 sama-sama mencacat rata-rata upah atau penghasilan generasi milenial selama satu bulan tercatat di kisaran Rp2,15 juta.

Di Jakarta, mimpi memiliki rumah makin jauh dari panggang api. Pemaparan data Potensi Investasi Sektor Properti Pemerintah DKI Jakarta mencatat, sejak tahun 2010, harga tanah di Jakarta tumbuh sebesar 16 persen per tahun. Merujuk data lain yang dimiliki Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, dicatat kenaikan upah riil di Ibu Kota hanya menyentuh 10 persen per tahun.

"Ketidakseimbangan ini membuat pembangunan rumah menjadi mahal di DKI Jakarta," tertulis dalam laporan.

Semakin mahal harga tanah di Jakarta berbanding lurus dengan merangkaknya harga rumah. Bahkan, data penjualan perusahaan konsultan real estate Cushman & Wakefield tahun 2016 mencatat tak ada lagi rumah menengah ke bawah di Jakarta. Artinya, masyarakat prasejahtera, termasuk para milenial yang mengantongi pendapatan di angka rata-rata bakal makin sulit membeli rumah di Ibu Kota.

Perumahan Toyiba di Bekasi (Detha Arya Tifada/VOI)

Perencana keuangan, Aidil Akbar Madjid mengamini sulitnya memiliki rumah di Jakarta. Alternatif yang masih memungkinkan untuk dijangkau, menurut Aidil Akbar adalah apartemen. Sebagai gambaran harga apartemen paling murah saat ini berkisar di angka Rp350-400 jutaan. Jika tetap memilih rumah, mau tak mau kita harus bergeser ke kota-kota penyangga macam Tangerang, Bogor, Depok, atau pun Bekasi.

"Kalau apartemen saja segitu, (harga) rumah pasti di atas itu lah ... Jadi masih bisa dapat di Tangerang atau Bekasi. Tapi lokasinya hampir satu jam perjalanan kereta," katanya kepada VOI.

Kami mencoba menyimulasikan rencana pembelian rumah seharga Rp500 juta di wilayah Jakarta. Jalannya, tentu saja dengan memanfaatkan program KPR. Menurut Aidil Akbar, untuk mengikuti program KPR, kita minimal harus menyisihkan 20 hingga 30 persen total pendapatan.

Maka, jika kita hendak membeli rumah dengan harga Rp500 juta, berarti setidaknya kita harus menyiapkan uang panjar sebesar Rp100 hingga Rp150 juta. Dengan panjar itu, artinya kita masih memiliki tanggungan utang sebesar Rp350 hingga Rp400 juta yang harus dicicil per bulan dengan nominal setidaknya Rp4 jutaan. "Kalau cicilan segitu berarti harus punya penghasilan minimal Rp10-12 juta," kata Aidil.

Meski begitu, pendapatan bukan faktor utama. Aidil mengatakan, pola konsumsi milenial yang cenderung menghabiskan uang untuk membeli pengalaman ketimbang aset juga jadi salah satu faktor kunci yang membuat milenial kesulitan punya rumah. "Kebanyakan dari mereka itu uangnya habis untuk travelling, untuk ngopi-ngopi, mereka lebih mengumpulkan experience daripada aset," kata Aidil.

Generasi di depan

Sonya dan Hafiz adalah milenial. Keduanya lahir di antara tahun 1980 hingga tahun 2000. Dan fakta soal kesulitan membeli rumah di atas adalah kenyataan yang harus dihadapi generasi mereka. Terkait penggolongan generasi, istilah milenial pertama kali dicetuskan oleh William Strauss dan Neil dalam buku berjudul Millennials Rising: The Next Great Generation (2000).

Istilah itu diciptakan tahun 1987, ketika anak-anak kelahiran tahun 1982 masuk prasekolah. Saat itu, media menyebut mereka sebagai kelompok yang terhubung ke milenium baru di saat lulus SMA tahun 2000. Pendapat lain diutarakan Elwood Caralson dalam buku The Luck Few: Between the Greatest Generation and the Baby Boom (2008).

Elwood mengatakan, generasi milenial adalah mereka yang lahir dalam rentang tahun 1983 hingga 2001. Jika didasarkan pada Generation Theory yang dicetuskan sosiolog Jerman, Karl Mannheim di tahun 1923, generasi milenial adalah mereka yang lahir pada rasio tahun 1980 hingga 2000.

Dari dalam negeri, Hasanuddin Ali dan Lilik Purwandi menjelaskan istilah milenial dalam Millennial Nusantara (2017). Keduanya menjelaskan bahwa generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1980 hingga dengan tahun 2000. Maka, dengan segala pendapat, kita dapat menyimpulkan bahwa generasi milenial adalah mereka yang lahir di tahun 1980-an sampai tahun 2000.

Jika harga properti yang terus meningkat menyebabkan para milenial kesulitan punya rumah, bagaimana dengan nasib gen z dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan dalam mencukupi kebutuhan papannya? Aidil mengatakan, hal itu tergantung bagaimana nanti gen z berkaca pada generasi milenial.

Apabila gen z ternyata bisa lebih pandai mengelola keuangan ketimbang generasi milenial, maka kesempatan untuk membeli rumah akan terbuka. Namun, sebaliknya, "kalau ternyata generasi z-nya ngikutin generasi milenial yang lebih banyak menghamburkan uang untuk traveling dan sebagainya, bisa jadi makin sulit," kata Aidil.

Selain itu, Aidil juga menambahkan, dalam kondisi normal, kenaikan harga properti lebih tinggi daripada kenaikan penghasilan. Jadi, bila tidak "dipaksakan", maka angan-angan untuk punya hunian impian tak akan terwujud. Apabila tak ada upaya untuk mengubah keadaan sulitnya punya rumah, maka sampai kapan pun hal itu tak akan merubah status quo.

Pasalnya, menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 di Jakarta hanya 47,85 orang yang punya rumah. Sementara sisanya ngontrak. Artinya mereka yang tak punya rumah tetap menjadi mayoritas. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) boleh saja menyebut kata milenial sebagai generasi yang akan kesulitan memiliki rumah. Namun, sejatinya, masalah papan ini akan dialami banyak generasi di masa depan. Milenial, gen z, atau siapa pun mereka dilabeli.

Artikel Selanjutnya: "Survei Kami Ungkap Bagaimana Pengelolaan Uang jadi Masalah buat Anak Muda Punya Rumah"