JAKARTA - Robot humanoid boleh menari, menabuh drum, dan menuang kopi. Tapi di pameran teknologi terbaru China di Fuzhou, Provinsi Fujian, perhatian besar justru tertuju pada adegan seorang operator memakai perangkat VR untuk mengajari robot mengambil gelas kertas.
Dikutip dari laporan China Daily, Kamis, 28 Mei, momen itu dianggap penting oleh Joyful Embodied, perusahaan robotika asal China. Bagi mereka, perlombaan robot AI bukan lagi soal tampilan keren, melainkan data.
“Kami sedang membangun sekolah untuk robot,” kata CEO Joyful Embodied, Chen Yishi, dalam wawancara dengan China Daily.
Perusahaan itu menyiapkan fasilitas pelatihan robot seluas lebih dari 3.000 meter persegi di Fujian. Tempat ini akan beroperasi sepanjang waktu.
Di sana, robot humanoid, robot berkaki empat, dan robot beroda akan dilatih mengerjakan tugas nyata. Mulai dari menumpuk gelas, memilah benda, membawa komponen, sampai mengelap meja.
Operator manusia akan memakai perangkat realitas virtual atau VR dan alat kendali gerak untuk mengarahkan robot dari jarak jauh. Kamera dan sensor kemudian merekam gerakan, sudut, tekanan, dan respons robot.
BACA JUGA:
Data inilah yang menjadi kunci. Chen menyebutnya sebagai “bahan bakar berkualitas tinggi” untuk melatih generasi baru AI yang tertanam dalam mesin fisik.
“Tanpa data dunia nyata, model besar paling canggih sekalipun hanyalah otak kosong,” kata Chen. “Robot tidak belajar lewat asumsi. Setiap gerakan kecil harus diajarkan melalui data.”
Istilah yang dipakai industri adalah embodied AI, atau kecerdasan buatan berwujud fisik. Sederhananya, ini AI yang tidak hanya menjawab pertanyaan di layar, tetapi masuk ke tubuh robot agar bisa melihat, memilih tindakan, dan bekerja di dunia nyata.
Arah ini menunjukkan pergeseran industri AI China. Setelah chatbot dan model bahasa, perhatian mulai bergeser ke robot yang benar-benar bisa dipakai di rumah, pabrik, gudang, sekolah, jasa, dan inspeksi keamanan.
Sektor ini juga mendapat dorongan politik. Embodied AI masuk dalam Laporan Kerja Pemerintah China 2026 sebagai industri strategis masa depan.
Fujian, yang selama ini dikenal sebagai pusat manufaktur, elektronik, dan perdagangan, ikut mendorong robotika, infrastruktur AI, dan otomasi industri.
Namun, tantangannya tidak kecil. Investor memang sudah mengucurkan dana besar untuk robot humanoid. Tapi para pelaku industri mulai melihat persoalan utama ada pada data pelatihan dari mesin sungguhan.
Data itu mencakup teleoperasi dan penangkapan gerak. Teleoperasi berarti robot dikendalikan manusia dari jarak jauh. Penangkapan gerak adalah perekaman gerakan manusia atau mesin agar bisa dipelajari sistem AI.
Chen menilai ekonomi robot AI ke depan tidak hanya ditentukan oleh perangkat keras. Data justru akan menjadi barang mahal.
“Data pelatihan embodied AI berkualitas tinggi sudah dihargai per jam,” katanya.
Joyful Embodied sendiri baru berdiri pada September 2025. Namun, perusahaan ini ingin masuk lebih jauh, bukan sekadar membuat robot. Mereka juga membangun model AI besar dan platform pengembangan bernama Joyful Studio.
Platform itu ditujukan untuk membuat aplikasi robot yang bisa disesuaikan di berbagai sektor, seperti manufaktur, logistik, pendidikan, layanan, dan inspeksi keamanan.
Menurut Chen, setiap robot yang beroperasi terus-menerus dalam sistem pengumpulan data akan membutuhkan sekitar tiga posisi teknis. Pekerjaannya meliputi anotasi data, optimasi algoritma, dan pemeliharaan perangkat.
Perusahaan juga berharap kekuatan ekspor Fujian dan jaringan bisnis warga China perantauan dapat membantu perluasan layanan robot dan data ke luar negeri.
Untuk saat ini, persaingan terbesar masih di dalam negeri. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China baru-baru ini menyetujui standar industri pertama untuk tolok ukur embodied AI. Standar itu mulai berlaku pada Senin.
Standar tersebut dinilai menjadi langkah awal untuk membuat evaluasi dan penerapan robot lebih tertata.
Chen menyebut industri robot sedang masuk babak penting.
“Persaingan tidak lagi hanya soal robot siapa yang bisa berjalan atau menari,” katanya. “Pertanyaan sebenarnya adalah: robot siapa yang benar-benar bisa bekerja.”
Robot yang bisa menghibur di panggung sudah banyak. Kini, ukuran barunya Adalah apakah robot itu bisa dilatih, diberi tugas, dan bekerja saat benar-benar dibutuhkan.