Bagikan:

JAKARTA - China mulai menggarap serius “bahan bakar” kecerdasan buatan: token AI. Provinsi Guizhou didorong menjadi salah satu pusatnya, dengan sokongan pusat data, listrik, dan daya komputasi besar.

Menurut laporan China Daily, Kamis, 30 April, rata-rata penggunaan token AI harian di China sudah melampaui 140 triliun pada Maret. Angka ini melonjak lebih dari 1.000 kali dibanding awal 2024 yang masih sekitar 100 miliar, dan naik lebih dari 40 persen dari posisi akhir 2025.

Token adalah unit kecil data yang diproses sistem AI saat membaca teks, gambar, atau perintah. Makin banyak token dipakai, makin besar pula aktivitas AI yang berjalan.

Data itu disampaikan dalam forum di Guiyang, ibu kota Guizhou, Senin. Pemerintah setempat melihat token sebagai pendorong baru pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.

“Guiyang dan Gui’an New Area telah memiliki fondasi kuat dalam daya komputasi dan sumber daya data,” kata Wakil Wali Kota Guiyang, Fu Tao. Menurut Fu Tao, kondisi ini membuka peluang besar untuk mengembangkan ekonomi token.

Saat ini, kawasan tersebut memiliki 27 pusat data berskala besar dengan total daya komputasi lebih dari 165 exaflops. Komputasi cerdas menyumbang lebih dari 98 persen.

Ketua China Data Pay, Tang Hanlin, melihat Guizhou punya kombinasi jarang: listrik stabil, komputasi besar, model AI, dan data. “Kami menggunakan dataset industri berkualitas untuk melatih dan menyetel token agar lebih sesuai dengan kebutuhan sektor tertentu,” ujarnya.

Platform token milik China Data Pay mencatat rata-rata penggunaan harian lebih dari 12 miliar token, dengan pengguna dan pesanan mencapai ratusan ribu.

Di sisi lain, penggunaan token belum merata di sektor-sektor seperti manufaktur, layanan pemerintah, dan layanan publik. Presiden Pengembangan Industri Huawei Cloud, Wang Xudong, mengatakan ruang pengembangannya masih terbuka lebar.

“Kami akan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan unggulan untuk mendorong peningkatan kecerdasan industri di Guiyang dan Gui’an,” kata Wang dikutip China Daily.

China Data Pay juga mulai melirik pasar luar negeri. Perusahaan itu menjajaki peluang layanan token global, sambil menyesuaikan diri dengan aturan dan sistem pembayaran di berbagai negara.

Perkembangan ini menunjukkan arah persaingan AI yang makin jelas. Bukan hanya soal model paling pintar, tetapi siapa yang menguasai data dan infrastruktur di belakangnya. Token menjadi pintu masuknya.