JAKARTA – Otoritas Amerika Serikat mencurigai peretas yang berafiliasi dengan pemerintah China berada di balik penyusupan ke jaringan komputer internal Biro Investigasi Federal (FBI). Sistem yang disusupi disebut menyimpan informasi terkait sejumlah perintah pengawasan domestik.
Laporan yang pertama kali diungkap Wall Street Journal menyebutkan bahwa penyelidikan masih berada pada tahap awal sehingga ruang lingkup dan tingkat keparahan serangan siber tersebut belum dapat dipastikan.
Menurut sumber yang mengetahui penyelidikan itu, para penyelidik Amerika menduga kelompok peretas yang terkait dengan pemerintah China menjadi pelaku di balik intrusi tersebut. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai sejauh mana data sensitif berhasil diakses.
FBI menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut. Sementara Kedutaan Besar China di Washington juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentardari media.
BACA JUGA:
Dokumen pemberitahuan yang dikirim FBI kepada Kongres dan ditinjau oleh Reuters menunjukkan bahwa lembaga tersebut mulai menyelidiki aktivitas log yang tidak biasa pada 17 Februari. Aktivitas tersebut terdeteksi pada sistem jaringan internal yang menjadi target serangan.
Para peretas diketahui menargetkan sistem yang tidak tergolong rahasia atau unclassified. Meski demikian, sistem tersebut menyimpan informasi mengenai komunikasi individu yang sedang berada dalam penyelidikan FBI.
Dalam pemberitahuan kepada Kongres itu, FBI menggambarkan teknik yang digunakan para peretas sebagai “canggih”. Lembaga tersebut juga menyatakan bahwa proses pemulihan sistem serta investigasi forensik digital masih terus berlangsung untuk mengetahui bagaimana intrusi terjadi dan apakah ada data yang berhasil diakses atau disalin.
Laporan lain dari Politico menyebutkan bahwa penyelidikan kini melibatkan sejumlah lembaga keamanan nasional Amerika Serikat. Gedung Putih, Badan Keamanan Nasional (NSA), serta Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA) di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri bekerja sama dengan FBI untuk menelusuri insiden tersebut.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pemerintah secara rutin menggelar pertemuan untuk membahas berbagai ancaman siber terhadap Amerika Serikat. Namun ia menolak memberikan rincian mengenai insiden spesifik ini.
“Gedung Putih secara rutin mengadakan pertemuan untuk membahas setiap ancaman siber terhadap Amerika Serikat,” kata pejabat tersebut kepada Reuters, seraya menambahkan bahwa pemerintah tidak akan membahas detail insiden tertentu.
Badan keamanan siber CISA mengarahkan pertanyaan media kepada FBI, sementara Badan Keamanan Nasional belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Insiden ini kembali menyoroti meningkatnya ketegangan di ruang siber antara Washington dan Beijing. Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat berulang kali menuduh kelompok peretas yang didukung negara melakukan spionase digital terhadap infrastruktur pemerintah, perusahaan teknologi, dan jaringan komunikasi strategis.
Di era geopolitik digital, medan tempur tidak lagi hanya berada di laut atau udara. Kabel fiber optik, server data, dan baris kode komputer kini menjadi wilayah baru tempat negara-negara besar saling mengintai, menguji pertahanan, dan terkadang—diam-diam—mencuri rahasia. Dunia intelijen menyebutnya perang tanpa suara, tapi dampaknya bisa mengguncang keamanan nasional seperti konflik konvensional