JAKARTA - Facebook resmi menghentikan aplikasi Messenger untuk macOS per 15 Desember 2025. Keputusan, mengakhiri perjalanan singkat aplikasi desktop buatan AS yang hanya bertahan sekitar lima tahun. Pengguna Mac kini diarahkan sepenuhnya ke Messenger versi web melalui browser.
Keputusan ini sebenarnya sudah diumumkan sejak 15 Oktober 2025, ketika Meta memberikan peringatan 60 hari sebelum aplikasi benar-benar berhenti berfungsi. Aplikasi Messenger untuk Mac bahkan telah lebih dulu ditarik dari Mac App Store, meski masih bisa digunakan oleh pengguna lama hingga tenggat waktu berakhir.
Bagi pengguna yang luput dari pengumuman tersebut, Meta menampilkan notifikasi langsung di aplikasi. Pesannya sederhana dan tegas: Messenger desktop akan dihentikan, percakapan tetap bisa dilanjutkan lewat browser. Aplikasi Messenger di iOS dan iPadOS tetap berjalan normal tanpa perubahan.
Meta juga memastikan pengguna Messenger yang tidak memiliki akun Facebook tetap bisa mengakses layanan seperti biasa melalui Messenger.com, tanpa kewajiban membuat akun Facebook baru.
BACA JUGA:
Langkah ini tergolong tidak lazim karena Meta bukan menutup layanannya, melainkan memangkas satu platform saja. Messenger sendiri punya sejarah panjang. Layanan ini berawal dari Facebook Chat pada 2008, berevolusi menjadi aplikasi mandiri, dan diperkuat setelah Facebook mengakuisisi layanan pesan grup Beluga pada 2011.
Versi macOS baru hadir pada Maret 2020, bertepatan dengan lonjakan kebutuhan komunikasi digital saat pandemi COVID-19. Aplikasi ini sempat terasa relevan, terutama lewat fitur video call dan Messenger Rooms yang mampu menampung hingga 50 peserta, menjadikannya alternatif Zoom atau Webex dalam skala terbatas.
Namun keunggulan itu perlahan tergerus. Sejak 2021, panggilan suara dan video Messenger bisa dilakukan langsung lewat browser. Artinya, alasan utama menggunakan aplikasi desktop mulai menghilang. Pengalaman chat di aplikasi macOS pada akhirnya tak jauh berbeda dengan versi web, hanya dibungkus dalam jendela terpisah.
Versi terakhir Messenger untuk macOS juga dinilai semakin membingungkan. Campuran fitur ala Facebook, Marketplace, hingga eksperimen seperti AI Studio membuat aplikasi terasa tidak fokus. Meski demikian, mayoritas pengguna tetap datang untuk satu hal klasik: mengirim pesan, menghadapi grup keluarga, dan sesekali menghapus spam.
Meta tidak memberikan penjelasan resmi terkait alasan penghentian aplikasi macOS. Namun secara bisnis, langkah ini dinilai masuk akal. Dengan mayoritas pengguna sudah mengakses Messenger lewat browser dan ponsel, mempertahankan aplikasi desktop berarti biaya tambahan tanpa dampak signifikan.
Di era di mana browser sudah menjadi pusat segalanya dan notifikasi ponsel nyaris tak pernah lepas dari genggaman, Messenger untuk macOS akhirnya menjadi korban efisiensi. Ia pergi tanpa drama besar, dan kemungkinan besar juga tanpa banyak yang benar-benar merasa kehilangan.