Bagikan:

JAKARTA - Taiwan menjatuhkan larangan satu tahun terhadap aplikasi media sosial asal China, Xiaohongshu atau RedNote, setelah mengaitkannya dengan ribuan kasus penipuan dan kegagalan memenuhi standar keamanan siber. Pemerintah menyatakan pemblokiran berlaku segera, menempatkan aplikasi yang punya lebih dari tiga juta pengguna di Taiwan itu dalam kategori area berisiko tinggi untuk penipuan belanja online.

Kementerian Dalam Negeri Taiwan menyebut platform tersebut terhubung dengan sekitar 1.700 kasus penipuan sejak 2024, yang menyebabkan kerugian lebih dari 247,7 juta dolar Taiwan baru atau sekitar 7,9 juta dolar AS. Investigasi sering tersendat karena otoritas Taiwan tidak memiliki yurisdiksi terhadap perusahaan induk Xiaohongshu di China.

Uji keamanan yang dilakukan Biro Keamanan Nasional Taiwan, memperlihatkan hasil yang telak: aplikasi itu gagal di semua 15 indikator yang diuji. Wakil Menteri Dalam Negeri Taiwan, Ma Shih-yuan, mengatakan seluruh penyedia layanan internet di Taiwan telah diminta memblokir akses ke aplikasi tersebut. Pemerintah juga mendesak perusahaan global seperti Google untuk menghentikan seluruh iklan Xiaohongshu di platform mereka.

Warga diminta tidak mengunduh aplikasi atau berhenti menggunakannya jika sudah terpasang. Langkah keras ini langsung memantik reaksi politik. Ketua Partai oposisi Kuomintang, Cheng Li-wun, menyebut keputusan itu sebagai pembatasan signifikan terhadap kebebasan internet, bahkan menuduh pemerintah sedang membangun “Tembok Besar Internet” versi Taiwan.

Pihak Xiaohongshu, Apple, maupun Google belum menanggapi permintaan komentar. Taiwan sebelumnya telah melarang aplikasi tersebut di perangkat pemerintah sejak 2022 karena dianggap menjadi saluran propaganda Beijing.

Pemerintah Taiwan sebenarnya sudah mengirim surat kepada perusahaan induknya, Xingyin Information Technology di Shanghai, awal tahun ini untuk meminta perbaikan keamanan yang jelas, tetapi tidak mendapat respons.

Popularitas Xiaohongshu sendiri melonjak di luar China, termasuk di Amerika Serikat setelah munculnya wacana pelarangan TikTok, yang membuat ratusan ribu pengguna TikTok hijrah ke platform tersebut.

Larangan dari Taiwan ini menandai babak baru dalam ketegangan teknologi lintas selat, memperlihatkan bagaimana isu keamanan siber semakin menjadi medan persaingan geopolitik yang sulit dipisahkan dari kehidupan digital pengguna sehari-hari.