JAKARTA - Aplikasi asal China yang dulu identik dengan ulasan kosmetik kini berubah menjadi pusat diskusi AI yang ramai diikuti pekerja teknologi global, terutama komunitas diaspora di Silicon Valley.
Rednote—lebih dikenal sebagai Xiaohongshu atau Little Red Book—menjadi arena tempat para insinyur, pendiri startup, hingga pekerja raksasa teknologi seperti OpenAI, Meta dan Google DeepMind saling bertukar informasi, unjuk proyek, dan curhat soal dinamika pasar kerja.
Sejak lonjakan minat AI setelah rilis ChatGPT, konten teknologi di Rednote meningkat drastis. Perusahaan menyebut kategori ini tumbuh lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir, sementara jumlah kreator teknologi naik tiga kali lipat.
Sekilas, platform ini masih memamerkan gaya hidup dan rekomendasi kuliner; namun di balik itu, linimasa Rednote telah disesaki review model AI terbaru layaknya ulasan skincare.
Tony Peng, pendiri newsletter Recode China AI, menyebut Rednote sebagai tempat paling jujur untuk membaca evaluasi model. Setiap kali muncul model baru, pengguna mengunggah analisis performa dan pengalaman langsung.
BACA JUGA:
Bagi banyak pekerja teknologi China di Bay Area, aplikasi ini sekaligus menjadi ruang hangat untuk berbagi rasa cemas soal pasar kerja, membahas paket kompensasi, dan mencari dukungan komunitas.
Latar belakang pengguna Rednote ikut berubah. Kekhawatiran soal potensi larangan TikTok mendorong sebagian Gen Z Amerika mengunduh aplikasi itu pada Januari 2025. Kini, lebih dari separuh penggunanya adalah generasi pasca-1995.
Pergerakan startup pun ikut terseret arus. Brandon Chen, CEO Intent, awalnya membangun sistem otomatis untuk mengatur ratusan dokumen ketika ia mengajukan visa. Setelah ia unggah cuplikan “sebelum–sesudah” di Rednote, ia dibanjiri permintaan agar alat itu dijadikan produk. Dari eksperimen kecil lahirlah Riffo. Rednote juga ia gunakan untuk rekrutmen—seorang kandidat penutur Jepang merespons dalam hitungan menit.
Qian Chen, jurnalis dan pendiri Valley101, mengatakan video-video soal PHK AI Meta atau persaingan ChatGPT–Google meraih performa terbaik justru di Rednote dibanding platform lain. Para pendiri startup AI lain, seperti Bill Zhu dari Pokee AI, menyebut aplikasi itu menyediakan komunitas erat di mana orang benar-benar mau saling berbagi pengalaman, termasuk kisah pendanaan yang kadang lebih jujur dibanding presentasi investor.
Rednote sendiri merangkul momentum ini. Pada musim masuk kuliah September, aplikasi itu meluncurkan kampanye “AI Guide” dan mengundang profesor dari berbagai universitas. Fitur terjemahan otomatis turut memperluas basis pengguna internasional, membuat percakapan lintas bahasa menjadi mulus. Bahkan tokoh AI global seperti Thomas Wolf dari Hugging Face ikut hadir dalam sesi AMA yang disiarkan langsung di platform tersebut.
Fenomena yang muncul adalah budaya “berbagi dengan tulus”. Sesi tanya jawab dengan ilmuwan dan pendiri perusahaan AI semakin populer karena pengguna lapar akan pengetahuan garis depan.
Bagi banyak pekerja teknologi, Rednote telah berevolusi dari tempat mencari rekomendasi lipstick menjadi semacam ruang diskusi yang meriah—mencerminkan perubahan lanskap teknologi global yang makin cepat dan pribadi.
Di saat sebagian platform media sosial makin terpolarisasi, Rednote menunjukkan sisi berbeda: sebuah ruang tempat komunitas teknologi global bisa berbagi kecemasan, rasa ingin tahu, dan eksperimen—tanpa kehilangan sentuhan gaya hidup yang selama satu dekade terakhir menjadi identitasnya