JAKARTA - Bagi serigala di Tibet, "robot antelop" pertama buatan China mungkin tampak sama menggiurkannya dengan kawanan antelop asli yang berkeliaran di dataran tinggi yang keras. Namun, "makhluk" ini adalah bagian dari sistem pengawasan Beijing yang kini menjangkau tempat-tempat paling terpencil di wilayah tersebut.
Dengan mata seperti rusa dan bulu cokelat tebal, robot antelop ini hampir tak bisa dibedakan dari antelop asli. Dilengkapi dengan teknologi 5G dan sistem penglihatan kecerdasan buatan (AI), robot ini memindai dataran tinggi Hoh Xil dengan sensornya, sebagaimana ditunjukkan dalam cuplikan dari kantor berita negara China, Xinhua.
Dikembangkan oleh Xinhua, Akademi Ilmu Pengetahuan China, dan DEEP Robotics yang berbasis di Hangzhou, robot antelop ini dilengkapi dengan konektivitas 5G dan sistem penglihatan AI, memungkinkan pemantauan secara real-time terhadap pola migrasi, makan, dan kawin dari spesies antelop langka yang endemik di Tibet.
China memberikan subsidi puluhan miliar untuk industri robotiknya dan menjadi tuan rumah Konferensi Robot Dunia 2025, yang berakhir pada Selasa, 12 Agustus.
Jaringan 5G tiba di Tibet pada tahun 2019, menurut dokumen pemerintah China, dan wilayah barat daya ini telah mencapai 1 juta pengguna pada tahun 2022. Dengan selesainya stasiun base 5G di kota Gogmo pada akhir 2023, setiap distrik di Tibet kini telah tercakup, menurut laporan media negara.
BACA JUGA:
Selain mengirimkan gambar langsung dan data pelacakan spesies antelop langka, infrastruktur 5G Tibet kini mendukung berbagai aplikasi AI, mulai dari drone kecil yang dapat beroperasi di area yang tidak dapat dijangkau radar, hingga konsultasi telemedicine dan teknologi penggembalaan yak pintar, menurut laporan media negara China.
China telah berinvestasi besar-besaran di Tibet, meningkatkan peran wilayah yang terkadang gelisah ini dalam inisiatif infrastruktur andalan Presiden China, Xi Jinping, Belt and Road, dengan memperkuat hubungan perdagangan dengan Asia Tengah, sekaligus memperketat pengawasan terhadap penduduknya dan memperluas jejak digital Beijing ke arah India, negara tetangga yang menjadi rival.
Para analis dan aktivis hak asasi manusia menuduh Beijing menggunakan taktik "zona abu-abu" terhadap negara-negara di sekitar dataran tinggi Tibet. Laporan Juli dari think tank Center for Strategic and International Studies mendokumentasikan kasus-kasus China memanfaatkan jaringan telekomunikasi lokal untuk memata-matai disiden yang tinggal di Nepal, serta kasus pencurian siber.