Bagikan:

JAKARTA - Uranium kembali menjadi sorotan dunia di tengah memanasnya konflik Iran dan Amerika Serikat. Material radioaktif ini bukan sekadar bahan tambang biasa, melainkan komponen utama dalam pengembangan energi nuklir hingga senjata nuklir berkekuatan dahsyat.

Ketegangan terbaru mencuat setelah Iran disebut menyetujui pengurangan dan pemindahan uranium yang telah diperkaya ke negara ketiga sebagai bagian dari proposal penghentian konflik dengan Amerika Serikat. Namun, Teheran meminta jaminan uranium tersebut dapat dikembalikan jika perundingan gagal dan menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya.

Di balik polemik geopolitik tersebut, muncul pertanyaan besar mengenai asal-usul uranium dan bagaimana prosesnya hingga bisa menjadi bahan baku nuklir.

Berasal dari Mana Uranium?

Dikutip Saintteks.uk, Minggu 24 Mei, uranium berasal dari kerak bumi dan ditemukan dalam bentuk batuan atau bijih uranium. Material ini ditambang dari dalam bumi sebelum diproses menjadi bahan baku industri nuklir.

Meski tersebar di berbagai wilayah dunia, cadangan uranium terbesar diketahui berada di Australia, Kanada, Kazakhstan, Namibia, dan Rusia. Kelima negara tersebut menyumbang sebagian besar pasokan uranium global.

Di alam, uranium terdiri dari dua isotop utama, yakni uranium-238 (U-238) dan uranium-235 (U-235). Dari keduanya, U-235 menjadi isotop paling penting karena mampu mengalami reaksi fisi nuklir atau pembelahan atom yang menghasilkan energi sangat besar.

Namun, kandungan U-235 di alam sangat sedikit, bahkan kurang dari satu persen dari total uranium alami. Karena itulah uranium harus melalui proses khusus agar dapat digunakan untuk kebutuhan nuklir.

Bagaimana Uranium Diproses?

Setelah ditambang, uranium tidak langsung dapat digunakan sebagai bahan bakar nuklir atau senjata. Uranium harus melewati sejumlah tahapan panjang dan rumit.

Tahap awal dimulai dari penghancuran bijih uranium hingga menghasilkan konsentrat uranium yang dikenal sebagai yellowcake. Setelah itu, uranium diubah menjadi gas uranium heksafluorida atau UF6.

Bentuk gas ini diperlukan agar uranium dapat masuk ke tahap paling penting, yakni pengayaan uranium.

Pengayaan uranium dilakukan untuk meningkatkan kadar uranium-235 agar dapat digunakan pada reaktor nuklir maupun senjata nuklir.

Metode paling umum yang digunakan adalah sentrifugasi gas. Dalam proses ini, gas uranium dimasukkan ke mesin sentrifugal yang berputar dengan kecepatan sangat tinggi.

Putaran cepat tersebut memisahkan isotop U-238 yang lebih berat dari U-235 yang lebih ringan. Semakin lama proses dilakukan, semakin tinggi kadar U-235 yang dihasilkan.

Secara umum, uranium hasil pengayaan dibagi menjadi dua kategori utama.

Pertama, low enriched uranium (LEU) atau uranium yang diperkaya rendah dengan kandungan U-235 di bawah 20 persen. Jenis ini biasanya digunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, reaktor penelitian, dan kebutuhan medis.

Kedua, highly enriched uranium (HEU) atau uranium dengan pengayaan tinggi yang memiliki kandungan U-235 di atas 20 persen. Jenis uranium ini digunakan untuk kepentingan militer, termasuk pengembangan senjata nuklir dan reaktor kapal selam bertenaga nuklir.

Sementara uranium dengan tingkat pengayaan sekitar 90 persen dikenal sebagai uranium tingkat senjata atau weapons-grade uranium.

Berapa Lama Uranium Bisa Menjadi Senjata Nuklir?

Tahapan paling sulit dalam pengembangan senjata nuklir sebenarnya berada pada pembangunan infrastruktur pengayaan uranium.

Setelah sebuah negara menguasai teknologi pengayaan, peningkatan kadar uranium hingga mencapai tingkat senjata dapat berlangsung relatif cepat.

Para pengamat keamanan internasional menilai proses menuju uranium tingkat senjata dapat berlangsung hanya dalam hitungan bulan apabila fasilitas dan teknologi pengayaan telah tersedia.

Karena itulah pengawasan program nuklir menjadi isu sensitif dalam hubungan internasional, termasuk dalam konflik Iran dan Amerika Serikat.

Mengapa Uranium Jadi Isu Penting Dunia?

Uranium memiliki dua sisi yang sangat berbeda. Di satu sisi, material ini menjadi sumber energi besar untuk pembangkit listrik dan kebutuhan medis modern. Namun di sisi lain, uranium juga dapat berubah menjadi senjata pemusnah massal dengan daya rusak luar biasa.

Karena itu, setiap aktivitas pengayaan uranium selalu menjadi perhatian dunia internasional. Perdebatan mengenai hak suatu negara untuk memperkaya uranium, pengawasan fasilitas nuklir, hingga potensi pengembangan senjata nuklir terus menjadi bagian penting dalam diplomasi global dan konflik geopolitik modern.