Bagikan:

JAKARTA – Indonesia menyelenggarakan seminar antariksa bersama Korea Selatan pada 28 Juli 2025. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara mendorong kolaborasi antariksa yang berkelanjutan. 

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang ikut hadir dalam forum tersebut, menyatakan bahwa Indonesia telah menetapkan antariksa sebagai prioritas nasional yang berkembang. Bahkan, Indonesia telah mengumumkan Peta Jalan Antariksa 2045.

Hal ini dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam sektor 'antariksa baru'. Menurut kedua negara, kolaborasi di sektor antariksa penting untuk mengatasi berbagai tantangan global. Harapannya, sektor ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Adi Rahman Ariwoso, Presiden dan CEO Pacific Satellite Nusantara (PSN) yang ikut hadir dalam acara tersebut, mengatakan bahwa perusahaannya memiliki dua wahana antariksa saat ini. Salah satu di antaranya akan diluncurkan pada Agustus mendatang. 

Sebagai ketua Asosiasi Antariksa Indonesia, Adi menjelaskan bahwa Indonesia tengah berusaha membangun kapabilitas antariksa mandiri. Misalnya seperti rencana pembangunan pelabuhan antariksa untuk meluncurkan roket internasional pada 2027 atau 2030.

Untuk mencapai rencana tersebut, Adi menekankan bahwa kemitraan internasional penting untuk dijalin. Dalam hal ini, Indonesia dapat berkolaborasi dengan lembaga atau berbagai perusahaan antariksa swasta yang ada di Korea. 

"Dan semoga, dengan bantuan BRIN, kita dapat menerbitkan Kebijakan Antariksa 2045 tahun ini, yaitu 100 tahun kemerdekaan Indonesia, yang bertujuan untuk dapat memiliki ruang aksesibilitas yang mandiri, peningkatan kapasitas, atau membangun satelit sendiri,” kata Adi.

Kolaborasi dengan Lembaga Antariksa Korea

Korea Selatan, yang saat ini juga fokus pada sektor antariksa, tertarik untuk berkolaborasi dengan Indonesia. Masih di acara yang sama, Direktur Hubungan Internasional Korea AeroSpace Administration (KASA) Kwanwoo Jung memaparkan langkah strategis Korea Selatan upaya kolaborasi internasional ini. 

“Kami percaya bahwa kolaborasi internasional sangat penting untuk masa depan sektor antariksa,” kata Jung. Ia menambahkan bahwa Korea sudah siap untuk berbagi banyak hal dengan Indonesia, mulai dari pengalaman, teknologi, hingga sumber daya. 

Sejalan dengan upaya kemitaan ini, Jung menyoroti peran KASA sebagai lembaga utama yang mengatur kebijakan antariksa Korea. Mereka telah menargetkan pengembangan Korea Positioning System (KPS) dan proyek NeonSat untuk memperkuat sistem navigasi dan pengamatan di orbit rendah Bumi. 

“Dengan peluncuran orbiter bulan pertama kami dan rencana pendaratan pada 2032, kami berharap dapat memperkuat kontribusi Korea dalam eksplorasi bulan dan sains antariksa global,” ungkap Jung.