Bagikan:

JAKARTA - Pendiri sekaligus CEO SpaceX, Elon Musk, mengungkapkan bahwa perusahaan antariksa miliknya diperkirakan akan mencatatkan pendapatan sekitar 15,5 miliar dolar AS (Rp252,4 triliun) pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan dominasi SpaceX yang semakin menguat di sektor luar angkasa komersial global.

Melalui unggahan di platform media sosial X pada Selasa 3 Juni, Musk menyebut bahwa pendapatan komersial SpaceX dari luar angkasa bahkan akan melampaui anggaran tahunan NASA yang hanya sekitar 1,1 miliar dolar AS (Rp17,9 triliun) tahun depan.

Meski NASA tetap berfokus pada pendanaan eksplorasi luar angkasa dalam dan misi-misi penelitian ilmiah, SpaceX justru memanfaatkan meningkatnya permintaan terhadap layanan peluncuran yang lebih hemat biaya dan komunikasi satelit untuk mendongkrak pendapatannya.

Perusahaan milik orang terkaya di dunia ini saat ini tengah mengembangkan sistem roket raksasa bernama Starship, yang memiliki tinggi sekitar 122 meter (400 kaki). Musk telah berulang kali menyatakan bahwa Starship akan memainkan peran penting dalam misi mengirim manusia ke planet Mars.

Selain Starship, SpaceX juga dikenal berkat roket Falcon 9 dan Falcon Heavy yang dapat digunakan kembali. Teknologi ini secara signifikan menekan biaya peluncuran dan telah membantu SpaceX merebut pangsa pasar peluncuran satelit di tingkat global.

Tahun 2024 menjadi tahun yang memecahkan rekor bagi SpaceX, dengan total 134 peluncuran roket Falcon. Capaian tersebut menjadikan perusahaan ini sebagai operator peluncuran paling aktif di dunia. Minggu lalu, SpaceX menargetkan untuk melampaui rekor tersebut dengan 170 peluncuran hingga akhir tahun 2025, demi mengimbangi meningkatnya permintaan terhadap peluncuran satelit.

Namun, pendorong utama pendapatan SpaceX saat ini berasal dari layanan internet satelit mereka, Starlink. Musk sebelumnya pernah menyebut bahwa Starlink akan melakukan penawaran saham perdana (IPO), namun hingga kini belum ada kepastian waktu.

Pada awal November 2023, Musk melaporkan bahwa Starlink telah mencapai titik impas dalam arus kas (breakeven cashflow). Di bawah program Starlink, SpaceX telah meluncurkan ribuan satelit untuk menyediakan layanan internet broadband secara global, terutama di daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau jaringan kabel tradisional.

Lebih jauh lagi, SpaceX dan dua mitranya saat ini menjadi kandidat utama untuk memenangi kontrak strategis dalam proyek pertahanan rudal “Golden Dome” milik pemerintah Amerika Serikat, yang diinisiasi di masa pemerintahan Presiden AS, Donald Trump. Informasi ini dilaporkan oleh Reuters pada bulan April lalu, mengutip keterangan dari enam sumber yang mengetahui rencana tersebut.

Dengan pertumbuhan agresif di berbagai sektor, dari peluncuran satelit hingga infrastruktur pertahanan, SpaceX menunjukkan posisinya sebagai kekuatan dominan baru dalam industri luar angkasa global, sekaligus memperkuat visi ambisius Elon Musk untuk menjadikan umat manusia sebagai spesies antarbintang.