Bagikan:

JAKARTA – NASA mempertimbangkan untuk mewajibkan Boeing melakukan uji coba ketiga tanpa awak terhadap kapsul Starliner sebelum digunakan kembali untuk membawa astronot. Persyaratan itu muncul setelah serangkaian masalah teknis yang menyebabkan dua astronot NASA terdampar di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) selama sembilan bulan.

Astronot Butch Wilmore dan Suni Williams, yang menaiki kapsul Starliner ke ISS tahun 2024, akhirnya kembali ke Bumi pada Selasa 18 Maret menggunakan kapsul Crew Dragon milik SpaceX. Keputusan ini diambil setelah Boeing kesulitan memperbaiki sistem propulsi Starliner yang mengalami kegagalan dalam misi uji coba berawaknya.

Program pengembangan Starliner telah menjadi salah satu tantangan besar bagi Boeing, dengan biaya yang telah membengkak lebih dari 2 miliar dolar AS (Rp32,9 triliun). Kapsul ini dirancang untuk bersaing dengan Crew Dragon milik Elon Musk dan memberikan NASA opsi kedua untuk transportasi astronot ke orbit rendah Bumi.

Namun, sebelum mendapatkan sertifikasi dari NASA untuk penerbangan rutin, Starliner mungkin perlu menjalani satu uji coba tanpa awak tambahan. Ini akan menjadi uji coba keempatnya setelah dua uji coba tanpa awak sebelumnya pada 2019 dan 2022.

"Kami sedang mempertimbangkan beberapa opsi untuk Starliner, termasuk kemungkinan menjalankan penerbangan tanpa awak tambahan jika diperlukan," ujar Steve Stich, Kepala Program Kru Komersial NASA, dalam konferensi pers pada Selasa malam.

Menurutnya, penerbangan Starliner dengan awak pada tahun lalu memang telah menyelesaikan beberapa pengujian penting terkait kendali dan pengoperasian kapsul oleh astronot. Namun, uji coba tambahan mungkin diperlukan untuk memastikan sistem propulsi Starliner dapat bekerja dengan baik di luar angkasa, sesuatu yang sulit disimulasikan di Bumi.

Masa Depan Starliner Terancam

Masalah utama yang menimpa Starliner adalah kegagalan lima mesin pendorongnya saat menuju ISS, serta kebocoran helium yang digunakan untuk menekan sistem propulsi. Situasi ini membuat NASA memutuskan agar Starliner kembali ke Bumi tanpa awak pada September 2024 karena dianggap terlalu berisiko untuk membawa astronot kembali.

Boeing berencana melakukan pengujian sistem propulsi di darat musim panas ini untuk memastikan perbaikan yang dilakukan sudah efektif. Namun, kegagalan demi kegagalan yang dialami Starliner membuat masa depannya semakin tidak pasti, terutama dalam persaingan dengan SpaceX.

Saat ini, Crew Dragon dari SpaceX telah menyelesaikan 11 misi dengan astronot NASA sejak uji coba berawak pertamanya pada 2020. Sementara itu, Starliner masih berjuang untuk membuktikan kelayakannya dalam misi luar angkasa.

Di sisi lain, Boeing juga memiliki rencana jangka panjang untuk menjadikan Starliner sebagai taksi luar angkasa bagi stasiun luar angkasa komersial yang sedang dikembangkan oleh berbagai pihak. Namun, tanpa sertifikasi dari NASA, proyek ini bisa terancam gagal.

Sejak 2016, Boeing telah mengeluarkan lebih dari 2 miliar dolar AS untuk menutupi biaya pengembangan dan perbaikan Starliner. Sementara itu, kontrak tetap perusahaan dengan NASA senilai 4,2 miliar dolar AS (Rp69.1 triliun) untuk pengembangan dan misi Starliner telah meningkat sebesar 326 juta dolar AS (Rp5,3 triliun) sejak diberikan pada 2014. Hingga saat ini, Boeing telah menerima sekitar 2,2 miliar dolar AS (Rp36,2 triliun) dari total dana tersebut.

Sementara itu, kontrak awal SpaceX dengan NASA yang bernilai 3 miliar dolar AS (Rp49,4 triliun) pada 2014 kini telah meningkat menjadi hampir 5 miliar dolar AS (Rp82,3 triliun), berkat penambahan misi baru yang diberikan oleh NASA karena keterlambatan Starliner.

Dengan tantangan yang terus dihadapi Boeing, pertanyaan besar kini adalah apakah NASA akan tetap mempertahankan Starliner sebagai opsi kedua dalam program transportasi luar angkasa, atau justru akan semakin bergantung pada SpaceX.