JAKARTA – Demonstrasi penerbangan pertama Starliner tidak berjalan dengan lancar, tetapi NASA masih menaruh harapan pada pesawat tersebut. Padahal, Starliner telah menyebabkan kerugian bagi Boeing.
Untuk menghindari kesalahan yang sama, yakni meninggalkan dua astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), NASA mendalami opsi uji terbang tanpa awak. Hal ini dilakukan agar NASA bisa memastikan keamanannya terlebih dahulu.
Potensi peluncuran Starliner masih diupayakan karena Boeing tetap berkomitmen dalam mengembangkan pesawat tersebut. Padahal, berdasarkan hasil hitungan akumulatif, Boeing mengalami kerugian hingga Rp32,9 triliun karena Starliner.
“Saya melihat komitmen dari Boeing untuk melanjutkan program tersebut. Mereka menyadari bahwa mereka memiliki kendaraan yang penting, dan kami sangat dekat untuk memiliki kemampuan yang ingin kami gunakan," kata Steve Stich, Manager Program Kru Komersial NASA, dikutip dari Spacenews pada Senin, 24 Maret.
Menurut Stich, komitmen Boeing dan CEO Kelly Ortberg tidak bisa diabaikan begitu saja. Boeing telah melakukan banyak cara untuk memulihkan Starliner, mulai dari menguji segel baru untuk menghilangkan kebocoran helium hingga menguji pendorongnya.
BACA JUGA:
Jika dilihat dari jumlah kerugiannya, Boeing seharusnya menyerah terhadap Starliner. Setiap kali melaporkan pendapatannya, jumlah kerugian Starliner terus bertambah karena Boeing mengeluarkan banyak biaya untuk memperbaiki masalah kebocoran helium.
Kerugian di setiap kuartal cukup beragam, tetapi totalnya mencapai Rp32,9 triliun. Meski kerugiannya sangat besar, pengembangan Starliner masih dilanjutkan karena Boeing dan NASA percaya dengan masa depan pesawat tersebut.
Kali ini, NASA dan Boeing tidak akan terburu-buru dalam menyiapkan misi uji coba Starliner berikutnya. Mereka belum memutuskan kapan Starliner akan diterbangkan kembali dan kapan pesawat ini akan menjadi bagian dari misi rotasi kru.