Bagikan:

JAKARTA - TikTok, Shein, Xiaomi, dan tiga perusahaan China lainnya menjadi sasaran keluhan privasi yang diajukan oleh kelompok advokasi Austria, Noyb, pada Kamis 16 Januari. Keluhan tersebut menuduh perusahaan-perusahaan ini secara ilegal mengirimkan data pengguna Uni Eropa ke China.

Noyb, singkatan dari "None Of Your Business," dikenal karena sering mengajukan keluhan terhadap perusahaan Amerika seperti Apple, Alphabet, dan Meta. Keluhan-keluhan tersebut telah memicu sejumlah investigasi serta denda miliaran dolar. Namun, ini merupakan pertama kalinya Noyb mengajukan keluhan terhadap perusahaan-perusahaan asal China.

Kelompok yang berbasis di Wina ini telah mengajukan enam keluhan di empat negara Eropa untuk menghentikan transfer data ke China dan menuntut denda yang dapat mencapai 4% dari pendapatan global perusahaan.

Noyb menyebutkan bahwa platform e-commerce Alibaba AliExpress, retailer Shein, TikTok, serta produsen ponsel Xiaomi mengakui mengirim data pribadi pengguna Eropa ke China. Sementara itu, retailer Temu dan aplikasi pesan Tencent WeChat mentransfer data ke "negara ketiga" yang tidak diungkapkan, tetapi diduga kuat adalah China.

Berdasarkan aturan privasi Uni Eropa, General Data Protection Regulation (GDPR), transfer data ke luar Uni Eropa hanya diizinkan jika negara tujuan dapat memberikan perlindungan data yang setara.

"China, sebagai negara otoriter dengan pengawasan ketat, jelas tidak menawarkan tingkat perlindungan data yang sama seperti Uni Eropa," kata Kleanthi Sardeli, pengacara perlindungan data di Noyb. "Transfer data pribadi pengguna Eropa ini jelas melanggar hukum dan harus segera dihentikan."

Perusahaan-perusahaan China, khususnya TikTok yang dimiliki oleh ByteDance, selama ini sering berhadapan dengan regulator di berbagai negara. TikTok bahkan berencana menutup akses aplikasinya bagi pengguna di Amerika Serikat pada Minggu mendatang, menyusul larangan federal yang akan diberlakukan terhadap aplikasi media sosial tersebut.

Di Eropa, Komisi Eropa juga sedang menyelidiki TikTok atas dugaan kegagalan membatasi intervensi pemilu, khususnya terkait pemilu presiden Rumania pada November lalu.