Bagikan:

JAKARTA - Saat ini harga Bitcoin melambung tinggi di atas Rp1 miliar per koin dan minat investor besar termasuk BlackRock kian meningkat. Namun tidak sedikit yang masih bersikap skeptis dan mengkritik aset kripto ciptaan Satoshi Nakamoto tersebut. Salah satunya adalah CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon. 

Bos JPMorgan Chase itu menyuarakan skeptisisme-nya terhadap Bitcoin. Dia menyebut aset kripto terpopuler itu sebagai “sampah” dan "skema Ponzi." Dalam wawancara terbaru dengan CBS News, Dimon menegaskan pandangannya bahwa meskipun banyak orang membeli atau menjual Bitcoin, itu tidak menjadikan BTC sebagai gagasan yang baik. 

Dalam keterangannya, Dimon menggambarkan Bitcoin sebagai hal yang tidak bernilai dan sering disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dimon bukanlah orang baru dalam mengkritik Bitcoin. 

Sejak pertama kali menyebutnya sebagai “skema Ponzi” pada tahun 2014, pandangannya terhadap Bitcoin tetap konsisten meskipun ada beberapa kali ia meredam pernyataan kerasnya, seperti pada tahun 2018 saat ia menyatakan bahwa dirinya menyesali menyebut Bitcoin sebagai scam alias penipuan. Namun, dalam pandangannya, meskipun dia menganggap Bitcoin tidak memiliki nilai jangka panjang, Dimon tidak melarang orang untuk berinvestasi Bitcoin.

Namun, sikap skeptis Dimon terhadap Bitcoin bukan berarti ia menolak teknologi blockchain secara keseluruhan. Sebaliknya, Dimon melihat potensi besar dalam teknologi yang mendasari banyak cryptocurrency ini. 

JPMorgan di bawah kepemimpinannya telah mengucurkan dana investasi besar dalam blockchain, termasuk peluncuran JPM Coin, token kripto yang memungkinkan pembayaran instan. Dimon memandang blockchain sebagai teknologi yang memiliki potensi besar, terutama dalam penerapan smart contract.

Meski ada banyak lembaga keuangan besar yang menerima Bitcoin dan kripto lainnya, Dimon tetap bersikukuh pada pandangannya bahwa Bitcoin hanya akan “menghabiskan waktu dan uang."