Bagikan:

JAKARTA - DNA memiliki tingkat kepadatan yang luar biasa hingga dapat digunakan untuk menyimpan data yang setara dengan ukuran 10 film digital dalam volume sangat kecil seperti sebutir garam.

Baru-baru ini, para ilmuwan di Universitas Columbia mengembangkan gagasan tersebut ke arah yang lebih jauh lagi, yaitu menulis data ke dalam DNA bakteri hidup seperti yang dilansir dari Science.

Agar bisa dibuat sebagai tempat penyimpanan data, DNA tersebut harus diubah oleh penyintesis (synthesizer) DNA dari format biner satu dan nol menjadi kode organik. Sebuah kombinasi dari empat molekul, adenina, guanina, sitosina, dan timina.

Namun, yang patut disayangkan adalah ketika kode ini semakin panjang, kinerja  synthesizer jadi semakin kurang akurat. Untuk memecahkan permasalahan ini, para ilmuwan memecah kode menjadi beberapa bagian. Kemudian, penyusun DNA harus menyatukannya lagi agar bisa mengakses data.

Proses penyimpanan data di DNA (dok.Springnature)

Sayangnya, tindakan tersebut belum bisa menghentikan penurunan DNA dari waktu ke waktu. Artinya, penyimpanan data dalam DNA tidak bisa berlangsung untuk selamanya. Para ilmuwan mencari solusinya dengan mencari tahu apakah kasus yang sama bisa untuk  organisme hidup. Hasilnya, data tersebut tidak hanya mampu bertahan dalam waktu yang lebih lama, tapi juga bisa diteruskan ke keturunan organisme.

Melansir Futurism, penelitian tersebut dikepalai oleh Harris Wang dari Kolombia yang telah melakukan riset selama beberapa tahun terakhir. Baru-baru ini, tim tersebut berhasil melakukan enkripsi 72 bit data untuk menuliskan kalimat “Halo dunia!” ke dalam sekumpulan sel bakteri.

Para peneliti menggunakan CRISPR, sebuah teknik pengeditan genetika yang bisa menggabungkan dan mengedit rangkain baru menjadi DNA untuk menyimpan data dalam gen aktif ini.

“Pekerjaan ini membentuk kerangka penyimpanan data digital-menjadi-biologis secara langsung dan meningkatkan kapasitas kita untuk melakukan pertukaran informasi antara entitas berbasis karbon dan silikon,” ujar tim peneliti dalam sebuah makalah yang terbit di jurnal Nature Chemical Biology pekan ini.

Meskipun ini merupakan capaian yang luar biasa, namun sampai saat ini rangkaian DNA tersebut belum bisa digunakan untuk penyimpanan data dalam jumlah yang banyak.

“Kami tidak akan bersaing dengan sistem penyimpanan memori saat ini,” imbuh Wang sebagaimana yang dikutip dari Science.

Para ilmuwan juga harus harus mencari cara agar data dapat bertahan dari replikasi dan mutasi DNA bakteri. Penyimpanan data dalam DNA bukanlah hal yang baru, sebelumnya sudah ada berbagai penelitian dan pengembangan terkait hal ini.

Pada 1988, Joe Davies bersama gabungan tim peneliti Harvard dan Berkeley telah mengembangkan metode penyimpanan data di DNA melalui proyek Microvenus.  Kemudian ada Wyss Institute yang telah berhasil menyimpan sebuah salinan buku dalam DNA pada 2011. Tidak berhenti sampai di situ, raksasa teknologi Microsoft juga turut serta menyimpan 100 buku, musik video dan lainnya yang berukuran lebih dari 1 GB ke dalam DNA.