JAKARTA - Ford Motor Company dikabarkan tengah bernegosiasi dengan raksasa otomotif China, BYD. Pabrikan asal Amerika Serikat itu mau menjajaki kemitraan pasokan baterai bagi sejumlah model kendaraan hybrid milik pabrikan asal Amerika Serikat itu.
Laporan Wall Street Journal pada 15 Januari menyebutkan, pembicaraan antara kedua perusahaan masih berada pada tahap awal dan belum menyentuh kesepakatan final. Sejumlah skema kerja sama disebut sedang dibahas, salah satunya opsi Ford mengirim baterai yang dipasok BYD ke fasilitas manufakturnya di luar Amerika Serikat.
Jika kolaborasi ini terealisasi, Ford berpeluang memperoleh akses ke teknologi baterai dari salah satu produsen mobil terbesar di China tersebut. Di mana, BYD dikenal dikenal memiliki efisiensi biaya serta kemampuan manufaktur kuat.
Potensi kemitraan ini juga selaras dengan langkah strategis Ford yang belakangan mengurangi laju ekspansi kendaraan listrik murni, sekaligus meningkatkan investasi pada kendaraan hybrid. Bulan lalu, Ford secara terbuka menyatakan bakal mengalihkan fokus dari kendaraan listrik sepenuhnya ke model hybrid.
Perusahaan menargetkan komposisi penjualan globalnya pada 2030 didominasi oleh kendaraan hybrid, hybrid plug-in, dan kendaraan listrik hingga menyumbang sekitar separuh dari total penjualan. Sebagaimana dilansir Carnewschina, Sabtu, 17 Januari.
Di sisi lain, BYD sendiri dikenal sebagai pemain besar di industri baterai sebelum berkembang menjadi produsen kendaraan berskala global. Perusahaan ini membangun fondasi lewat bisnis manufaktur baterai, termasuk untuk kendaraan hybrid.
BACA JUGA:
Saat ini, produksi baterai BYD masih terkonsentrasi di China, namun perusahaan terus memperluas kapasitas lewat fasilitas luar negeri demi memperkuat penetrasi pasar Asia Tenggara, Eropa, hingga Brasil. Bernstein Research memperkirakan pengiriman baterai BYD naik 47 persen pada tahun lalu, mencapai 286 gigawatt-jam.
Meski BYD sebelumnya telah memproduksi baterai untuk kendaraan komersial di fasilitas pembuatan busnya di California, perusahaan belum memproduksi baterai kendaraan penumpang di Amerika Serikat. Sementara itu, Ford sedang menghadapi tantangan dari melambatnya permintaan kendaraan listrik.
Bulan lalu perusahaan mengumumkan penyesuaian strategi dan memperkirakan harus menanggung biaya hingga 19,5 miliar dolar AS, terutama yang berkaitan dengan operasional kendaraan listriknya. Sejalan dengan perubahan arah tersebut, Ford disebut bakal memperluas jajaran kendaraan bermesin bensin serta meningkatkan pilihan model hybrid.
Pada akhirnya, hal tersebut akan meningkatkan kebutuhan baterai khusus hybrid. Penjualan kendaraan hybrid Ford tercatat menunjukkan tren positif, dengan penjualan kuartal keempat tahun lalu tumbuh 18 persen secara tahunan menjadi sekitar 55.000 unit.
Potensi kerja sama Ford dan BYD juga bukan hal baru. Pada 2020, Ford mulai menggunakan baterai BYD untuk kendaraan yang diproduksi melalui usaha patungan mereka di China bersama produsen milik negara, Changan.
Beberapa tahun setelahnya, BYD disebut mendekati Ford untuk memasok baterai bagi kendaraan yang dijual di pasar lain. Laporan itu juga menyebut Ford Bronco PHEV yang baru diluncurkan telah menggunakan baterai dari Findreams, anak perusahaan BYD.