JAKARTA - CEO Ford Jim Farley dalam wawancara baru-baru ini memberi pengakuan mengejutkan. Ia mengungkap proses membongkar dan mempelajari kendaraan listrik (EV) dari rival utamanya, Tesla dan produsen China.
Kepada Business Insider, dikutip Rabu, 12 November, Farley menyebut prosesnya merupakan pengalaman yang "mengejutkan" dan akhirnya memaksanya untuk merombak total strategi perusahaan otomotif raksasa Amerika tersebut.
Berbicara dalam podcast "Office Hours: Business Edition," Farley mengakui bahwa kemajuan yang dicapai pesaing seperti Tesla milik Elon Musk dan perusahaan rintisan EV China telah membangunkan Ford dari tidurnya.
Ia membicarakan keterkejutan paling signifikan terjadi ketika timnya membongkar unit Tesla Model 3 pertama. Farley menemukan bahwa Ford Mustang Mach-E memiliki sekitar 1,6 kilometer kabel listrik lebih banyak daripada Model 3. Kelebihan kabel ini tidak hanya menambah bobot kendaraan Ford, tetapi juga menuntut penggunaan baterai yang jauh lebih besar dan lebih mahal, sebuah temuan yang menyoroti keunggulan efisiensi desain dari pesaingnya.
Menanggapi realitas brutal tersebut, Farley mengambil langkah drastis pada tahun 2022 dengan memisahkan operasi EV Ford ke dalam divisi baru bernama Model E. Meskipun divisi tersebut diperkirakan akan menghadapi kerugian lebih dari 5 miliar dolar AS pada tahun 2024 dan diproyeksikan merugi serupa tahun ini, Farley tidak menyesali langkah tersebut. Ia berargumen bahwa memisahkan divisi EV adalah penting untuk menciptakan akuntabilitas kepada investor dan untuk menyelesaikan masalah tersulit secepat mungkin.
BACA JUGA:
Selain Tesla, Farley telah berulang kali memperingatkan bahwa raksasa EV China menimbulkan ancaman eksistensial bagi Ford dan produsen mobil Barat lainnya. Ia bahkan menggambarkan EV China sebagai "jauh lebih unggul" dan "benar-benar mendominasi" lanskap EV global, di mana sekitar 50 persen penjualan mobil baru di China adalah kendaraan listrik, berbanding hanya sekitar 10 persen di Amerika Serikat. Keunggulan ini didukung oleh model berteknologi tinggi dengan harga yang sangat terjangkau.
"Kami tidak dapat meninggalkan EV... Saya tidak akan menyerahkan itu kepada China," komitmen tegasnya soal menghadapi persaingan yang ketat ini.
Namun, ambisi EV Ford di AS menghadapi realitas yang berbeda. Farley mengakui bahwa pasar EV di AS "sama sekali berbeda" dari yang dibayangkan, dengan permintaan yang melambat dan konsumen cenderung mencari model listrik yang terjangkau, bukan kendaraan seharga 70.000-80.000 dolar AS (setara Rp1,1-1,3 miliar).
Untuk beradaptasi dengan kondisi pasar yang baru ini dan menghadapi persaingan, Ford kembali menggeser strategi EV-nya. Pada Agustus lalu, Farley mengumumkan lini produksi EV baru yang dirancang untuk membantu Ford bersaing secara langsung dengan BYD dan Tesla. Kendaraan pertama yang akan diluncurkan dari lini produksi ini adalah truk ukuran menengah dengan harga sekitar 30.000 dolar AS (Rp500 juta), yang diharapkan meluncur pada tahun 2027, menandai fokus baru Ford pada segmen EV yang lebih mudah dijangkau